• Home
  • Genetik
  • Google
  • Links
  • About
  • Yohan Naftali

    Management

    IHSG Turun

    Jun. 11, 2008

    IHSG terus turun, kita yang tidak berhubungan dengan sektor finansial boleh berharap tidak tekena dampaknya, akan tetapi hal tersebut tidak mudah terjadi, sektor riil mau tak mau juga pasti ikut kena dampaknya. Berikut penjelasannya:

    Investasi ada 2
    1. Sektor Riil
    2. Sektor Keuangan

    IHSG -> mewakili sektor keuangan -> naik turunnya mencerminkan perkembangan ekonomi, bisa juga tidak

    IHSG -> jual beli pasar saham sekunder.
    Logikanya naik turunnya investasi di pasar sekunder tidak mempengaruhi perusahan emiten (penerbit saham) -> tapi sentimen negatif pada IHSG dapat menyedot dana (baik di sektor riil maupun sektor keungan) -> jadinya bila IHSG turun -> sektor riil juga berdampak!

    Masalahnya di sini hanyalah karena adanya faktor psikologis belaka, bukan karena IHSG turun -> perusahaan emiten merugi.

    Skemanya

    IHSG Turun -> Dana dari sektor keuangan dan riil ditarik -> Sektor riil kekurangan dana -> Sektor riil stagnan.

    Seharusnya (bila investor rasional)
    IHSG Turun -> Dana dari sektor keuangan dialihkan ke sektor riil -> Sektor riil mendapatkan dana -> Sektor riil tumbuh.

    Artikel mengenai IHSG:

    Selasa, 10 Juni 2008 | 16:05 WIB

    JAKARTA,SELASA – Mengikuti mayoritas bursa regional yang berada di zona merah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terpuruk dibawah 2.400. IHSG Selasa (10/6) sore ditutup terpuruk 36,260 poin (1,50 persen) menjadi 2.373,817

    Sementara indeks Kompas100 turun merosot 9,642 poin (1,62 persen) ke 586,542. Kemudian indeks LQ45 berkurang 8,384 poin (1,65 persen) menjadi 499,634. Serta Jakarta Islamic Index (JII) melemah 7,020 poin (1,60 persen) pada 431,266.

    Perdagangan hari ini didominasi 158 saham turun dibanding hanya 40 saham naik serta 58 saham stagnan. Volume perdagangan mencapai 3,596 miliar saham dengan nilai Rp 6,701 triliun dari 73.983 kali transaksi. Sektor pertambangan yang diperkirakan akan menjadi penyokong justru menjadi penyumbang negatifnya indeks.

    Saham-saham yang turun antara lain Timah (TINS) turun Rp 350 ke Rp 34.000. Medco (MEDC) turun Rp 350 ke Rp 5.250. Bumi REsource (BUMI) turun Rp 300 ke Rp 8.150. Antam (ANTM) turun Rp 100 ke Rp 3.075. Batubara Bukit Asam (PTBA) turun Rp 500 ke Rp 15.100. Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp 750 ke Rp 33.300. Bank BRI (BBRI) turun Rp 250 ke Rp 5.100. Bank BCA (BBCA) turun Rp 25 ke Rp 2.67.0 London Sumatra (LSIP) turun Rp 250 ke Rp 9.500. Astra Agro Lestari (AALI) turun Rp 750 ke Rp 24.850.

    Sedang saham-saham yang bertahan di zona hijau antara lain, Indosat (ISAT) naik RP 1.000 ke Rp 6.550. Telkom (TLKM) naik Rp 50 ke Rp 7.950.

    Sementara mayoritas regional dengan dipimpin indeks Hang Seng terpuruk di zona merah. Indeks Hang Seng, Hong Kong anjlok 1.026,66 poin ((4,21 persen) ke 23.531,93. Kemudian di Singapura Straits Times Index (STI) turun 46,09 poin (1,49 persen) ke posisi 3.003,93.

    Hal serupa juga menimpa saham-saham di Jepang, dengan indeks Nikkei225 merosot 160,2 poin (1,13 persen) ke posisi 14,021,17. Indeks Kospi Korea Selatan berkurang 34,58 poin (1,91 persen) pada 1.774,38. Serta indeks All Ordinaries Australia yang merosot 146,90 poin (2,58 persen) ke 5.544,30.

    EDJ

    Terimbas Regional, IHSG Turun 13 Poin

    Selasa, 10 Juni 2008 | 12:28 WIB

    JAKARTA,SELASA – Terimbas regional, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sesi Selasa (10/6) pagi ditutup turun 13,126 poin (0,54 persen) ke posisi 2.396,951.

    Sedang indeks Kompas100 berkurang 3,409 poin (0,57 persen) ke 592,775. Kemudian indeks LQ45 melemah 2,374 poin (0,47 persen) menjadi 505,644. Sementara Jakarta Islamic Index (JII) berhasi naik tipis 0,070 poin (0,02 persen) pada 438,356.

    Perdagangan didominasi 124 saham turun dibanding 33 saham naik serta 57 saham stagnan. VOlume perdagangan mencapai 1,461 miliar saham dengan nilai Rp 3,244 triliun dari 36.612 kali transaksi.

    saham-saham yang turun antara lain Timah (TINS) turun Rp 300 ke Rp 34.050. Medco (MEDC) turun Rp 250 ke Rp 5.350. Bank BRI (BBRI) turun Rp 250 ke Rp 5.100. Bank BCA (BBCA) turun Rp 100 ke Rp 2.575. London Sumatra (LSIP) turun Rp 50 ke Rp 9.700.

    Sedang saham-saham yang menguat antara lain Indosat (ISAT) yang baru diperdagangkan kembali, melesat RP 900 ke Rp 6.550. Telkom (TLKM) naik Rp 50 ke Rp 7.950. Bumi REsource (BUMI) naik Rp 50 ke Rp 8.500. Astra Agro Lestari (AALI) naik Rp 100 ke Rp 25.700.

    Sementara mayoritas regional terpuruk di zona merah, seiring kekhawatiran terhadap melonjakany harga minyak mentah serta kekhawatiran terhadap sektor keuangan Amerika Serikat.

    Saham-saham di Hong Kong terjun bebas, indeks Hang Seng, Hong Kong anjlok 870,25 poin (3,57 persen) ke 23.531,93. Kemudian di Singapura Straits Times Index (STI) turun 32,13 poin (1,04 persen) ke posisi 3.051,89.

    indeks Kospi Korea Selatan yang berkurang 36,63 poin (2,02 persen) pada 1.772,33. Serta indeks All Ordinaries Australia yang merosot 125,000 poin (2,20 persen) ke 5.566,200.

    Demikian juga dengan saham-saham di Jepang yang sempat menguat, akhirnya terpuruk 151,73 poin (1,07 persen) ke posisi 14,029,65.

    EDJ

    Sumber: Kompas


    Share on Facebook

    Pengendalian Kualitas

    May. 11, 2008

    Pengendalian kualitas dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu On-Line Quality Control dan Off-line Quality Control .

    • On-line Quality Control adalah kegiatan pengendalian kualitas yang dilakukan selama proses pabrikasi berlangsung dengan menggunakan Statistical Process Control (SPC). Sifat On-line Quality Control adalah tindakan pengendalian yang reaktif,atau tindakan setelah kegiatan produksi berjalan. Artinya jika produk yang dihasilkan tidak memenuhi spesifikasi yang diharapkan, tindakan perbaikan terhadap proses dilakukan dengan tujuan meminimasi jumlah cacat yang terjadi.
    • Off-Line Quality Control adalah pengendalian kualitas yang dilakukan sebelum proses produksi atau pengendalian kualitas yang bersifat preventif. Dengan tindakan preventif maka kemungkinan adanya cacat produk dan masalah kualitas dapat diatasi sebelum produksi berjalan. Pengurangan pada produk cacat akan mengurangi scrap dan produk gagal, yang akhirnya akan mengurangi pemulangan produk dari konsumen serta dapat mengurangi kerugian. Tujuan dari Off-Line Quality Control adalah untuk mengoptimasi desain produk dan proses dalam rangka mendukung kegiatan On-Line Quality Control.

    Secara umum pengendalian kualitas atau Quality Control dapat diartikan sebagai suatu system yang efektif untuk memadukan pengembangan, pemeliharaan dan upaya perbaikan kualitas berbagai kelompok dalam sebuah organisasi agar perekayasaan,produksi dan jasa, serta pemasaran dapat berada pada tingkatan yang paling ekonomis sehingga konsumen mendapat kepuasan penuh. Jadi pengendalian kualitas berarti:

    • Menggunakan pengawasan kualitas sebagai dasar setiap kegiatan
    • Pengendalian biaya,harga dan laba secara terintegrasi
    • Pengendalian jumlah, meliputi jumlah produksi, penjualan dan persediaan serta waktu pengiriman kepada pelanggan.

    Share on Facebook

    Karakteristik Kualitas Laporan Keuangan Menurut SFAC No 2

    Apr. 03, 2008

    Karakteristik kualitas laporan keuangan menurut SFAC No.2

    Hierarchy of Accounting Qualities, FASB, SFAC No. 2 Page 20, May 1980

    Karakteristik kualitas laporan keuangan dapat digambarkan dalam hirarki yang ditunjukan oleh gambar di atas.

    Decision Maker and Their Characteristics

    Karakteristik Pembuat keputusan :

    1. Menetapkan laporan keuangan mana yang berguna, penetapan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, metoda keputusan yang dipakai,
    2. Metoda pengambilan keputusan yang dipakai
    3. Informasi yang telah dimiliki atau didapat dari sumber lain
    4. Kapasitas pembuat keputusan dalam mengolah informasi.

    Constraint

    Dalam menyediakan laporan keuangan yang berguna harus dipertimbangkan 2 batasan (constraint) yaitu

    1. Cost – Benefit (Pervasive Constraint)

      Cost dalam menyediakan laporan keuangan harus ditimbang dengan benefit yang di dapat dari menggunakan laporan tersebut.

      AICPA Special Committee membuat batasan untuk membatasi biaya pelaporan

      1. Laporan harus tidak memuat informasi diluar kemampuan manajemen atau yang mana manajemen bukan sumber terbaik dari laporan tersebut, sebagai contoh laporan mengenai competitor.
      2. Manajemen harus tidak diminta untuk melaporkan informasi yang secara signifikan akan merugikan posisi kompetisi perusahaan
      3. Manajemen harus tidak diminta untuk menyediakan forecasted financial statements, manajemen hanya menyediakan informasi yang membantu user meramalkan sendiri kondisi keuangan perusahaan di masa dating.
      4. Manajemen hanya dibutuhkan melaporkan informasi yang diketahuinya, ini berarti manajemen tidak berkewajiban mengumpulkan informasi yang tidak dipunyai, dibutuhkan, dalam menjalankan bisnis.
      5. Beberapa elemen dari laporan keuangan harus dilaporkan apabila user dan manajemen setuju untuk dilaporkan – sebuah konsep flexible reporting
      6. Perusahaan tidak diharuskan untuk melaporkan laporan forward-looking, kecuali ada sesuatu faktor aturan yang memaksa perusahaan membuatnya.
    2. Materiality (Threshold for Recognition)

      Batasan materiality berhubungan dengan pengaruh sebuah item dalam operasi keuangan sebuah perusahaan. Materiality adalah suatu faktor yang dapat mengubah keputusan.

    Relevance

    Laporan keuangan bias disebut relevan bila

    1. Dapat memberikan gambaran masa lalu (Feedback Value)
    2. Dapat memberikan gambaran masa depan (Predictive Value)
    3. Tepat waktu (Timeliness)

    Reliability

    Reliabilitas laporan keuangan disebut reliabel jika dapat diverifikasi, representational faithfulness, dan neutral

    Neutrality

    Laporan keuangan bersifat netral, contohnya laporan keuangan untuk intern dan laporan keuangan untuk pajak seharusnya netral (sama)

    Verifiability

    Laporan keuangan harus bias diverifikasi oleh metoda akuntansi lain dan hasilnya sama

    Representational Faithfulness

    Laporan keuangan harus dapat dipercaya, angka dan penjelasan yang dilaporkan adalah apa yang memang terjadi.

    Comparability

    Laporan keuangan akan lebih bernilai apabila bisa dibandingkan dengan industri yang sejenis


    Share on Facebook

    Kepemimpinan dan Kekuasaan

    Mar. 10, 2008

    Kekuasaan adalah kapasitas seseorang, team maupun organisasi dalam mempengaruhi orang/team/organisasi yang lain

    Kekuasaan diperlukan oleh seorang manajer untuk menunjang tugasnya yaitu melakukan planning – organizing – Actuating – Controlling. Kedua pernyataan di atas kurang benar, Manajer yang baik adalah manajer yang efektif dan efisien dalam menggunakan kekuasaan, kekuasaan hanya merupakan alat yang dapat digunakan baik untuk mencapai tujuan organisasi maupun sebaliknya dapat menghancurkan organisasi apabila digunakan secara tidak bijaksana oleh seorang manajer.


    Seorang manajer belum tentu seorang pemimpin, manajer yang baik adalah manajer yang bisa menjadi seorang pemimpin yang efektif bagi bawahannya. Seorang pemimpin bukan hanya melakukan pekerjaan seorang manajer tetapi seorang pemimpin adalah seseorang yang memiliki visi dan mampu merubah organisasi ke arah yang lebih baik.

     


     

    Ada 5 teori mengenai kepemimpinan yang efektif yaitu

    1. Competency Perspective
    2. Behavioral Perspective
    3. Contingency Perspective
    4. Transformational Perspective
    5. Romance Perspective

     

    Dalam Competency Perspective, seorang pemimpin yang efektif harus memiliki 7 kompetensi yaitu:

    • Drive yaitu pemimpin memiliki motivasi dari dalam diri sendiri untuk mencapai tujuan
    • Leadership Motivation yaitu pemimpin memiliki kemauan yang keras untuk mempengaruhi bawahannya.
    • Integrity yaitu kepemimpinan yang dapat dipercayai dan melaksanakan apa yang dikatakannya.
    • Self-confidence yaitu seorang pemimpin memiliki keyakinan akan kemampuannya.
    • Intelligence yaitu pemimpin memiliki kemampuan kognitif yang di atas rata-rata untuk memproses informasi yang banyak.
    • Knowledge of the business yaitu pemimpin memiliki pengetahuan mengenai lingkungan bisnisnya untuk mengambil keputusan.
    • Emotional Intelligence yaitu seorang pemimpin memiliki kemampuan dalam menguasai emosinya dan emosi orang lain, memisahkannya dan menggunakan informasi untuk memandu pikiran dan tindakannya.

     

    Dari sudut pandang Behavioral, kepemimpinan dianggap efektif bila mengerti perilaku bawahannya sehingga bisa mempengaruhi dan memotivasi bawahannya, dalam hal ini setiap orang diperlakukan dengan cara yang berbeda. Tipe orang ada 2 yaitu tipe anak kecil dan tipe orang dewasa, dalam menghadapi tipe anak kecil pemimpin harus menggunakan People-Oriented Leadership, sedangkan menghadapi orang dewasa harus menggunakan Task-Oriented Leadership.

     

    Menurut pandangan Contingency, seorang pemimpin harus dapat membaca situasi, gaya pemimpin harus sesuai dengan situasi, dan dapat berubah menurut situasi. Salah satu teori ini adalah Situational Leadership Harsey dan Blanchard, terdapat 4 perilaku orang dalam organisasi, dan setiap karakter orang tersebut harus diperlakukan secara berbeda pula

     

    Keinginan

    Mau 

    Tidak Mau 

    Mau 

    Tidak Mau 

    Knowledge/Skill

    Mampu 

    Mampu 

    Tidak Mampu 

    Tidak Mampu 

    Perlakuan

    Beri Tantangan 

    People Oriented 

    Task Oriented 

    Task Oriented dan

    People Oriented 

     

    Menurut pandangan transformasi, pemimpin harus bisa melahirkan pemimpin dengan jalan mengkomunikasikan visinya, memodelkan, membangun komitmen dan menciptakan visi.

     


     

    Pandangan terakhir adalah Romance Perspective of Leadership, Pandangan sebelumnya telah membuat asumsi dasar mengenai kepemimpinan, tetapi ada sebuah bukti bahwa eksekutif senior memiliki pengaruh dalam kinerja sebuah organisasi. Pandangan ini menjelaskan ada 3 proses persepsi yang menyebabkan orang untuk menekankan pentingnya kepemimpinan dalam menjelaskan kegiatan organisasi, proses ini adalah Attributing Leadership, Stereotyping Leadership dan Kebutuhan untuk mengendalikan situasi.

     


     

     



     


    Share on Facebook

    Pareto dalam Pengendalian Mutu

    Mar. 10, 2008

        Contoh Kasus Pengendalian Mutu di Medical Center “SEHAT’i”

        Dr. Frans Melik, Direktur Pengelola “M. C. SEHAT’i”, baru-baru ini mengadakan survey melalui penyebaran kuesioner, guna menganalisa faktor-faktor penyebab pasien yang semakin menurun karena akibat penurunan ini pendapatan M. C. SEHAT’i juga turun sampai 20% dibandingkan dengan bulan yang sama periode tahun lalu.

    Hasil kuesioner dari 1000 responden telah diringkas seperti dibawah ini, untuk memudahkan, terlebih dahulu diberi kode pada masing-masing jawaban responden.

    Penyebab

    KODE

    Obat-obatan di apotek (Klinik) kurang lengkap

    A

    Dokter ahli (spesialis) tidak lengkap

    B

    Tidak punya kartu berobat

    C

    Tidak tahu ada “Klinik Sehat Krina”

    D

    Pelayanan di Klinik kurang baik

    E

    Lokasi Klinik jauh dari rumah

    F

    Ruang tunggu Klinik kurang nyaman

    G

    Belum tahu prosedur pendaftarannya

    H

     

    Ringkasan Hasil Kuesioner


     

     

     

     

     

     

     

     

    Check Sheet dan Diagram Pareto dari hasil kuesioner tersebut

     

     

        Pengurutan


     

     

     

     


     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Dari diagram pareto ditunjukan secara jelas masalah tertinggi sebesar 25% dari seluruh masalah dikarenakan oleh lokasi klinik jauh dari rumah, diagram pareto ditemukan oleh Vilfredo Pareto dan dipopulerkan oleh Joseph M. Juran yang berpendapat bahwa 80% masalah disebabkan oleh 20% penyebab, sehingga bila menyelesaikan 20% penyebab masalah dapat menyelesaikan 80% masalah.

    Dalam diagram pareto ini masalah dapat terlihat secara urut dari yang paling tinggi ke yang paling rendah frekuensinya, hal ini memudahkan untuk pengambilan keputusan. Pada kasus ini masalah yang tebanyak frekuensinya adalah karena lokasi klinik yang jauh dari rumah, untuk itu direktur pengelola mungkin dapat mengambil suatu kebijakan atau tindakan perbaikan contohnya dengan cara mempelajari ulang lokasi para pasien dan membuka cabang di lokasi yang dekat dengan rumah pasien, walaupun perlu dipertimbangkan juga cost and benefit-nya penurunan 20% pendapatan dibandingkan meraih 25% pengunjung dengan membuka cabang baru.

    Walaupun menurut asas pareto hanya 20% penyebab saja yang menyebabkan 80% masalah, direktur pengelola juga akan bijaksana melihat faktor lainnya, contohnya frekuensi terbanyak kedua adalah ketidaktahuan pengunjung akan prosedur klinik, seharusnya direktur pengelola dapat meninjau metoda pemberitahuan prosedur, direktur pengelola dapat saja sebagai contoh membuat suatu informasi mengenai prosedur klinik yang dipasang di tempat yang mudah dilihat pengunjung, atau juga mewajibkan petugas keamanan secara proaktif melayani pengunjung, misalnya saat membuka pintu pengunjung dapat disapa dengan ramah dan bertanya apakah membutuhkan bantuan atau informasi. Ketidak-tahuan pelanggan dengan adanya klinik krina dapat diselesaikan dengan cara melakukan iklan atau pamflet atau sarana komunikasi massa lainnya supaya masyarakat mengetahui adanya klinik sehat krina. Pelayanan klinik yang kurang baik juga dapat menyebabkan kehilangan pasien, seharusnya pelayanan adalah suatu masalah yang paling murah, direktur pengelola harus mempelajari masalah ini dan mengambil tindakan untuk memperbaiki ini.


    Share on Facebook

    Kualitas Jasa

    Mar. 10, 2008

    Contoh Kasus

    Pada suatu penerbangan, kebetulan terjadi penomoran ganda tempat duduk, artinya dua orang penumpang memegang boarding pass dengan seat number yang sama di kelas ekonomi. Setelah bersitegang dengan awak pesawat, salah satu penumpang mengajukan ide/jalan keluar yaitu : salah satu duduk di kursi bisnis karena tempat duduk di sana masih kosong sebanyak 5 kursi lagi. Pihak awak pesawat tidak mengijinkan dan menyarankan salah satu untuk menempati kursi di deretan terbelakang, penumpang tersebut semula menolak karena harus pindah jauh dari kursi semula, padahal ia harus membawa tas yang cukup berat. Banyak penumpang lain yang berkomentar, “Wah…. kalau awak pesawat tidak pelit kita sudah dari tadi sampai di tujuan …”

        Pendapat tentang fenomena tersebut bila disoroti dari pemahaman:

    1.    Customer Focus, Perusahaan penerbangan ini tidak fokus kepada konsumen, seharusnya kepuasan konsumen menjadikan perhatian bagi perusahaan penerbangan ini, konsumen yang kecewa akan menyebarkan ketidakpuasan mereka kepada konsumen lain, seharusnya perusahaan memiliki kebijakan yang menuntut para awak pesawat untuk melakukan pelayanan yang baik kepada konsumen, awak pesawat dapat melakukan keputusan untuk memberikan kursi bisnis yang kosong kepada kedua penumpang tersebut untuk mengurangi kekecewaan mereka akan penomoran ganda, apalagi dilihat dari sisi biaya perusahaan tidak akan dirugikan, perilaku awak pesawat dalam kasus ini merupakan contoh dari kebijakan perusahaan yang tidak fokus kepada konsumen.

    2.     Qualitiy is on time Delivery, Penerbangan yang tertunda karena negosiasi yang alot, dan pelayanan penyelesaian masalah oleh awak pesawat sangat merugikan penumpang yang lain yang menginginkan sampai ke tempat tujuan sesuai jadwal, negosiasi yang terlalu lama seharusnya tidak terjadi, dalam menangani suatu masalah konsumen pada kasus di atas, awak pesawat seharusnya dapat dengan cepat memutuskan tindakan yang dapat memuaskan konsumen secepatnya bukannya bersitegang dengan penumpang yang merupakan konsumen. Seharusnya dalam sebuah perusahaan penerbangan para awak pesawat menyadari bahwa core product dari bisnis ini adalah menghantarkan penumpang tepat pada waktunya, para awak mengorbankan waktu penumpang demi sesuatu yang kurang esensial. Kualitas dicapai bila diberikan pada saat yang tepat, seharusnya pelayanan yang prima dari awak pesawat dapat ditunjukan pada saat ini, bila mereka memberikan pelayanan yang baik kepada konsumen, maka justru saat itu pula konsumen yang tadinya merasa dirugikan justru akan merasa puas dengan pelayanan yang baik.

    3.     Quality is Consistency, kasus ini seharusnya tidak terjadi, seharusnya perusahaan membuat suatu sistem yang dapat mengurangi suatu kesalahan penomoran dengan meningkatkan reliabilitas sistem mereka, konsistensi dari prosedur penomoran tiket dapat mengurangi terjadinya masalah ini. Menjaga kualitas suatu perusahaan harus konsisten dalam menerapkan standar yang sudah dibentuk, dalam kasus di atas bila sudah ada prosedur pelayanan terhadap penanganan komplain dari penumpang, awak pesawat tidak perlu ragu-ragu dalam memutuskan untuk memindahkan penumpang ke kursi lain, contohnya dalam suatu penanganan ketidak puasan seorang penumpang, awak pesawat dapat memberikan kursi kelas bisnis apabila kosong, kalau ternyata kursi kelas bisnis penuh, maka awak pesawat dapat memutuskan untuk memberikan service extra seperti makanan spesial atau tambahan, McDonald Singapura contohnya menerapkan standar yang memberikan konsumen paket makanan dengan tempat istimewa bagi pelanggan yang tidak tersenyum saat dilayani, makanannya sama hanya di kotak makanan tersebut mempunyai label “This is a special package because we failed to make you smile“. Pelayanan yang konsisten kepada pelanggan sangat penting dalam menjaga mutu, terutama di saat ini di mana persaingan semakin ketat, pelayanan yang superior kepada pelanggan akan menambah suatu nilai kepuasan.


    Share on Facebook

    Produktivitas

    Mar. 10, 2008

    Contoh Perhitungan

    Jeany saat ini bekerja 12 jam untuk menghasilkan 240 boneka, Ia berpendapat, bila mengganti teknik pewarnaan sekaligus untuk 2 bagian boneka, maka ia mampu menghasilkan 360 boneka. Untuk membuat boneka biaya materialnya $ 3,5 per-boneka, bahan pembantu $60 per-3 hari produksi. Biaya bahan bakar listrik $ 2 per – 6 jam operasi. Upah tenaga kerja $ 10 per-jam

        Dengan pendekatan rumus PRODUKTIVITAS = OUTPUT / jumlah INPUT, di mana input = multifactor, maka perhitingan:

        a.    Produktivitas saat ini

            PRODUKTIVITAS = OUTPUT / jumlah INPUT

        Perincian jumlah INPUT untuk memproduksi 240 boneka dalam 12 jam kerja

    Komponen

    Biaya

    Konsumsi

    Total Biaya

    Material

    $ 3,5 / boneka

    240 boneka

    $ 840

    Bahan Pembantu

    $ 60 / 3 hari

    1 hari

    $ 20

    Bahan Bakar Listrik

    $ 2 / 6 jam operasi

    12 jam operasi

    $ 4

    Upah

    $ 10 / Jam

    12 jam

    $ 120

    Total Input

    $ 984

     

            PRODUKTIVITAS     = 240 / 984

                        = 0.24

        b.    Produktivitas bila teknik pengecatan dilakukan

            PRODUKTIVITAS = OUTPUT / jumlah INPUT

        Perincian jumlah INPUT untuk memproduksi 360 boneka dalam 12 jam kerja

    Komponen

    Biaya

    Konsumsi

    Total Biaya

    Material

    $ 3,5 / boneka

    360 boneka

    $ 1260

    Bahan Pembantu

    $ 60 / 3 hari

    1 hari

    $ 20

    Bahan Bakar Listrik

    $ 2 / 6 jam operasi

    12 jam operasi

    $ 4

    Upah

    $ 10 / Jam

    12 jam

    $ 120

    Total Input

    $ 1404

     

            PRODUKTIVITAS     = 360 / 1404

                        = 0.26

        Produktifitas meningkat dibandingkan dengan saat ini

     

    c.    Produktivitas, bila biaya material bertambah sebesar $0,5/boneka sesudah cat diganti dengan mutu yang lebih baik

    Komponen

    Biaya

    Konsumsi

    Total Biaya

    Material

    $ 4 / boneka

    360 boneka

    $ 1440

    Bahan Pembantu

    $ 60 / 3 hari

    1 hari

    $ 20

    Bahan Bakar Listrik

    $ 2 / 6 jam operasi

    12 jam operasi

    $ 4

    Upah

    $ 10 / Jam

    12 jam

    $ 120

    Total Input

    $ 1584

     

        PRODUKTIVITAS     = 360 / 1584

                        = 0.23

        Produktivitas menurun dibandingkan dengan saat ini

     

    d.    Mengacu pertanyaan C, berapa harga material maksimal agar tingkat produktivitasnya tidak menurun dibandingakan dengan saat ini


        PRODUKTIVITAS awal     =     PRODUKTIVITAS material baru

                    =     

                        =    

                        =    

        240 x ((360X) + 144)        =    360 x 984

        86400X + 34560            =    354240

        86400X                =    354240 – 34560

        86400X                =    319680

        X                    =    

        X                    =    3,7

        Harga material maksimal adalah $3,7 supaya produktifitas tidak menurun, bila harga material di atas $3,7 akan berakibat menurunnya produktivitas


    Share on Facebook

    Optimasi Pasangan Mesin dan Operator

    Mar. 10, 2008

    Untuk membuat produk “A” diperlukan proses produksi sebagai kombinasi kegiatan Manusia (Operator) dengan Mesin. Kegiatan yang dicatat adalah sebagai berikut :

    Operator menghidupkan mesin 1 dan mesin 2

    2,5 menit

    Operator mengambil produk “A” dari mesin-mesin

    5 menit

    Operator memeriksa hasil (2 kali)

    5 menit/pemeriksaan

    Operator membungkus produk

    10 menit

    Operator membawa produk ke gudang (PP)

    10 menit

    Operator berjalan dari dan ke mesin 1 & 2

    2,5 menit

    Operator menunggu mesin memproses bahan sampai produk jadi

    120 menit

    Operator mengisi dan membawa “log book” ke meja supervisor

    10 menit

     

        Pasangan Operator dan Mesin sehingga tercapai pasangan optimal

    Pembagian waktu orang dan waktu mesin

     

    Kegiatan

    Man Time

    Machine Time

    Operator menghidupkan mesin 1 & mesin 2

    2,5 menit

    2,5 menit

    Operator mengambil produk “A” dari mesin

    5 menit

    5 menit

    Operator memeriksa hasil (2 kali)

    5 menit/ pemeriksaan

    Operator membungkus produk

    10 menit

    Operator membawa produk ke gudang (PP)

    10 menit

    Operator berjalan dari dan ke mesin 1 & 2

    2,5 menit

    Operator menunggu mesin memproses bahan sampai produk jadi

    120 menit

    Operator mengisi dan membawa “log book” ke meja supervisor

    10 menit

     

    Apabila diasumsikan cycle time yang di blok kuning adalah waktu untuk membuat 1 produk dan terjadi hanya 1 kali per-proses produk, tanpa memiliki data proses flow, dan tanpa memperhatikan faktor lainnya, seperti fatique factor, spesialisasi pekerjaan, berbagi fasilitas, dan faktor lainnya, maka dari asumsi ini dapat dihitung cycle time independent masing-masing elemen.

    Independent Cylcle Time for Man (waktu operator untuk membuat produk tanpa tergantung dengan mesin),

            ICTMan = 5+10+10+2,5+10 = 37,5 menit

    Independent Cycle Time for Machine (waktu mesin bekerja tanpa membutuhkan intervensi operator)

            ICTMach = 120 menit

    Karena waktu menunggu adalah waktu yang tidak effisien, maka waktu menunggu akan diminimalkan, diketahui dalam soal waktu menunggu mesin memproses bahan sampai produk jadi adalah 120 menit, sehingga pasangan antara jumlah operator dan mesin adalah:

    Jumlah operator : Jumlah mesin     = ICTMan     : ICTMach

                            = 37,5     : 120

                                = 1        : 3,2

        Kesimpulan, pasangan operator dan mesin adalah 1 orang : 3 mesin dengan idle time operator sebesar

        Idle time     = (Jumlah Orang x ICTMach) – (Jumlah Mesin x ICTMan)

            = (1 x 120) – (3 x 37,5)

            = 120 – 112,5

            = 7,5 menit (+ artinya operator idle)

    Pasangan 1 operator : 3 mesin masih lebih effisien dibandingkan dengan Pasangan 1 operator : 4 mesin, hitungan idle time adalah :

        Idle time     = (Jumlah Orang x ICTMach) – (Jumlah Mesin x ICTMan)

            = (1x 120) – (4 x 37,5)

            = 120 – 150

            = – 30 menit (- artinya mesin idle)

    Di sini terjadi unbalance sehingga mesin harus berhenti 30 menit, pasangan 1 operator : 4 mesin kurang effisien, kecuali bila perhitungan finansial menunjukan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk 30 menit mesin lebih mahal dibandingkan biaya 7,5 menit orang. Perhitungan untuk mesin dapat dihitung dari depresiasi nilai mesin per 30 menit atau cara lain, walaupun demikian pada prakteknya saat terjadinya kenaikan produksi yang tinggi, perusahaan akan mengoptimalkan mesinnya sehingga yang dipergunakan adalah perbandingan 1 operator : 3 mesin, hal ini mungkin terjadi karena (1) mahalnya harga mesin (2) lead time yang lama untuk membeli mesin (3) ketidakpastian volume produksi di masa yang akan datang, sedangkan bila permintaan produksi menurun perusahaan akan memilih cara yang secara perhitungan finansial lebih menguntungkan.


    Share on Facebook

    Globalisasi

    Mar. 10, 2008

    Heizer and Render (2005) menjelaskan bahwa alasan globalisasi dibagi menjadi alasan yang berwujud sampai dengan alasan yang tak berwujud.

    Alasan Globalisasi

    Salah satu contoh globalisasi adalah Maquiladoras. Maquiladoras adalah sebuah zona perdagangan bebas (free trade zones) yang terletak di Mexico.

    Tujuan dari Maquiladoras ditinjau dari sudut pandang globalisasi adalah untuk mengurangi biaya pajak dari perusahaan manufaktur dengan hanya membayar nilai tambah yang diberikan oleh pekerja mexico. Contohnya pada perusahaan manufaktur Amerika Serikat seperti IBM merakit komputer seharga $500 ke maquiladoras dengan biaya tenaga kerja $25, pajak hanya pada biaya $25.

    Kerjasama ini menguntungkan kedua belah pihak, dari sisi Amerika Serikat, perusahaan manufaktur dapat mengurangi biaya produksi sehingga produk mereka dapat lebih berkompetensi dengan produk negara lain, dari sisi Mexico, banyak tenaga kerja yang diserap oleh perusahaan manufaktur, sehingga mengurangi pengangguran. Pemindahan pekerjaan low-skilled ke negara lain oleh Amerika memiliki 3 keuntungan:
    i. Mengurangi biaya tenaga kerja
    ii. Membebaskan pekerja yang berbiaya lebih tinggi untuk melakukan pekerjaan yang memiliki nilai lebih tinggi
    iii. Keuntungan dari pengurangan biaya tenaga kerja memberikan perusahaan tersebut untuk mempunyai dana lebih yang dapat diinvestasikan dalam pengembangan produk dan fasilitas.


    Share on Facebook

    Flow Analysis

    Dec. 18, 2007

    Flow analysis adalah analisis untuk pengambilan keputusan penaksiran nilai yang mengikuti flow atau arus pasar. Gehrig dan Menkhoff (2003) melakukan penelitian mengenai penggunaan flow analysis oleh manajer investasi (fund manager) dan foreign exchange dealer di Eropa. Salah satu hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepentingan penggunaan informasi yang didapat dari analisis teknikal untuk mengambil keputusan adalah sebesar 40.2%, kemudian disusul tingkat kepentingan penggunaan informasi dari analisis fundamental sebesar 36.3%, sisanya adalah 23.5% menggunakan informasi yang berasal dari flow analysis.


    Share on Facebook