• Home
  • Genetik
  • Google
  • Links
  • About
  • Yohan Naftali

    Economics

    Era Keemasan

    Jun. 16, 2008

    Sumber: National Geographic

    Randy Olson, fotografer kisah Era Keemasan, memaparkan pandangannya soal budaya modern di China.

    Nama saya Randy Olson dan saya seorang fotografer. Saya telah menghabiskan banyak waktu tahun lalu di China untuk menceritakan tentang perkembangan kelas menengah, sebuah kelas nyaman di Cina. Pada dasarnya ceita ini berkisah tentang uang. Secara garis besar kisah ini bercerita tentang ekonomi Cina yang merah dan panas, dimana menambahkan sebuah ekonomi sebesar ekonomi Itali setiap tahunnya. Dan akibatnya adalah pada tahun 2010 jumlah kelas menengah di Cina akan menyamai jumlah kelas menengah di Amerika Serikat dengan gaya hidup yang nyaman. Ini merupakan suatu pertumbuhan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Itulah pandangan garis besarnya. Pandangan kecilnya lebih menarik lagi. Anda memasuki tingkat individu dan anda sadar uang telah beredar begitu cepat di kalangan mereka. Ekonomi telah mencapai hasil yang sekarang didapat dalam 10 tahun, dan hasil tersebut telah dicapai dalam 50 tahun di daerah kami. (continue reading…)


    Share on Facebook Delicious Bookmark this on Delicious

    IHSG Turun

    Jun. 11, 2008

    IHSG terus turun, kita yang tidak berhubungan dengan sektor finansial boleh berharap tidak tekena dampaknya, akan tetapi hal tersebut tidak mudah terjadi, sektor riil mau tak mau juga pasti ikut kena dampaknya. Berikut penjelasannya:

    Investasi ada 2
    1. Sektor Riil
    2. Sektor Keuangan

    IHSG -> mewakili sektor keuangan -> naik turunnya mencerminkan perkembangan ekonomi, bisa juga tidak

    IHSG -> jual beli pasar saham sekunder.
    Logikanya naik turunnya investasi di pasar sekunder tidak mempengaruhi perusahan emiten (penerbit saham) -> tapi sentimen negatif pada IHSG dapat menyedot dana (baik di sektor riil maupun sektor keungan) -> jadinya bila IHSG turun -> sektor riil juga berdampak!

    Masalahnya di sini hanyalah karena adanya faktor psikologis belaka, bukan karena IHSG turun -> perusahaan emiten merugi.

    Skemanya

    IHSG Turun -> Dana dari sektor keuangan dan riil ditarik -> Sektor riil kekurangan dana -> Sektor riil stagnan.

    Seharusnya (bila investor rasional)
    IHSG Turun -> Dana dari sektor keuangan dialihkan ke sektor riil -> Sektor riil mendapatkan dana -> Sektor riil tumbuh.

    Artikel mengenai IHSG:

    Selasa, 10 Juni 2008 | 16:05 WIB

    JAKARTA,SELASA – Mengikuti mayoritas bursa regional yang berada di zona merah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terpuruk dibawah 2.400. IHSG Selasa (10/6) sore ditutup terpuruk 36,260 poin (1,50 persen) menjadi 2.373,817

    Sementara indeks Kompas100 turun merosot 9,642 poin (1,62 persen) ke 586,542. Kemudian indeks LQ45 berkurang 8,384 poin (1,65 persen) menjadi 499,634. Serta Jakarta Islamic Index (JII) melemah 7,020 poin (1,60 persen) pada 431,266.

    Perdagangan hari ini didominasi 158 saham turun dibanding hanya 40 saham naik serta 58 saham stagnan. Volume perdagangan mencapai 3,596 miliar saham dengan nilai Rp 6,701 triliun dari 73.983 kali transaksi. Sektor pertambangan yang diperkirakan akan menjadi penyokong justru menjadi penyumbang negatifnya indeks.

    Saham-saham yang turun antara lain Timah (TINS) turun Rp 350 ke Rp 34.000. Medco (MEDC) turun Rp 350 ke Rp 5.250. Bumi REsource (BUMI) turun Rp 300 ke Rp 8.150. Antam (ANTM) turun Rp 100 ke Rp 3.075. Batubara Bukit Asam (PTBA) turun Rp 500 ke Rp 15.100. Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp 750 ke Rp 33.300. Bank BRI (BBRI) turun Rp 250 ke Rp 5.100. Bank BCA (BBCA) turun Rp 25 ke Rp 2.67.0 London Sumatra (LSIP) turun Rp 250 ke Rp 9.500. Astra Agro Lestari (AALI) turun Rp 750 ke Rp 24.850.

    Sedang saham-saham yang bertahan di zona hijau antara lain, Indosat (ISAT) naik RP 1.000 ke Rp 6.550. Telkom (TLKM) naik Rp 50 ke Rp 7.950.

    Sementara mayoritas regional dengan dipimpin indeks Hang Seng terpuruk di zona merah. Indeks Hang Seng, Hong Kong anjlok 1.026,66 poin ((4,21 persen) ke 23.531,93. Kemudian di Singapura Straits Times Index (STI) turun 46,09 poin (1,49 persen) ke posisi 3.003,93.

    Hal serupa juga menimpa saham-saham di Jepang, dengan indeks Nikkei225 merosot 160,2 poin (1,13 persen) ke posisi 14,021,17. Indeks Kospi Korea Selatan berkurang 34,58 poin (1,91 persen) pada 1.774,38. Serta indeks All Ordinaries Australia yang merosot 146,90 poin (2,58 persen) ke 5.544,30.

    EDJ

    Terimbas Regional, IHSG Turun 13 Poin

    Selasa, 10 Juni 2008 | 12:28 WIB

    JAKARTA,SELASA – Terimbas regional, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sesi Selasa (10/6) pagi ditutup turun 13,126 poin (0,54 persen) ke posisi 2.396,951.

    Sedang indeks Kompas100 berkurang 3,409 poin (0,57 persen) ke 592,775. Kemudian indeks LQ45 melemah 2,374 poin (0,47 persen) menjadi 505,644. Sementara Jakarta Islamic Index (JII) berhasi naik tipis 0,070 poin (0,02 persen) pada 438,356.

    Perdagangan didominasi 124 saham turun dibanding 33 saham naik serta 57 saham stagnan. VOlume perdagangan mencapai 1,461 miliar saham dengan nilai Rp 3,244 triliun dari 36.612 kali transaksi.

    saham-saham yang turun antara lain Timah (TINS) turun Rp 300 ke Rp 34.050. Medco (MEDC) turun Rp 250 ke Rp 5.350. Bank BRI (BBRI) turun Rp 250 ke Rp 5.100. Bank BCA (BBCA) turun Rp 100 ke Rp 2.575. London Sumatra (LSIP) turun Rp 50 ke Rp 9.700.

    Sedang saham-saham yang menguat antara lain Indosat (ISAT) yang baru diperdagangkan kembali, melesat RP 900 ke Rp 6.550. Telkom (TLKM) naik Rp 50 ke Rp 7.950. Bumi REsource (BUMI) naik Rp 50 ke Rp 8.500. Astra Agro Lestari (AALI) naik Rp 100 ke Rp 25.700.

    Sementara mayoritas regional terpuruk di zona merah, seiring kekhawatiran terhadap melonjakany harga minyak mentah serta kekhawatiran terhadap sektor keuangan Amerika Serikat.

    Saham-saham di Hong Kong terjun bebas, indeks Hang Seng, Hong Kong anjlok 870,25 poin (3,57 persen) ke 23.531,93. Kemudian di Singapura Straits Times Index (STI) turun 32,13 poin (1,04 persen) ke posisi 3.051,89.

    indeks Kospi Korea Selatan yang berkurang 36,63 poin (2,02 persen) pada 1.772,33. Serta indeks All Ordinaries Australia yang merosot 125,000 poin (2,20 persen) ke 5.566,200.

    Demikian juga dengan saham-saham di Jepang yang sempat menguat, akhirnya terpuruk 151,73 poin (1,07 persen) ke posisi 14,029,65.

    EDJ

    Sumber: Kompas


    Share on Facebook Delicious Bookmark this on Delicious

    Pemikiran Kaum Sosialis dan Klasik

    Mar. 10, 2008

    Pemikiran sosialis diinspirasi dari ajaran teori klasik, terutama oleh ajaran nilai kerja dari David Richardo. Marx mencoba menyempurnakan ajaran nilai kerja David Ricardo dengan menggunakan pengertian kerja kemasyarakatan / perusahaan tingkat menengah yang perlu (“gemiddeld maatschappelijk nood-zakelijke arbeid“) di mana dikatakan bahwa nilai barang-barang dibayar dari kerja buruh yang mempunyai tenaga kerja dan semangat kerja menengah dengan menggunakan alat produksi yang diperlukan dalam zaman dia hidup. Dengan membuat berlaku ajaran nilai ini bagi faktor produksi tenaga kerja sampailah Marx pada “ajaran nilai lebih”, suatu ajaran yang sangat banyak mempunyai arti psikologis bagi perjuangan kaum sosialis. Selanjutnya Marx membuat ramalan bahwa kapitalis akan runtuh dengan sendirinya, meskipun demikian Marx menganjurkan untuk mendirikan organisasi politik untuk mempercepat kedatangan Chiliasme.

    Di lain pihak John Stuart Mill dalam bukunya “Principles of Political Economy” mengatakan keuntungan disebabkan karena buruh memproduksi lebih dari yang dibutuhkan untuk mendukungnya. Alasan kenapa modal menghasilkan keuntungan adalah karena makanan, pakian, material dan alat dapat lebih awet dari waktu yang dibutuhkan untuk memproduksinya. Sehingga keuntungan muncul bukan dari pertukaran, akan tetapi dari kekuatan produktif buruh, bila buruh pada sebuah negara secara kolektif memproduksi 20 persen lebih dari upahnya, maka keuntungan akan menjadi 20 persen. Kaum klasik mempercayai bahwa keuntungan diperoleh bukan dari pemerasan kaum buruh tetapi dari peran pengetahuan, kerja kapitalis dan entrepreneur yang menyediakan hal teknik, pengambilan resiko, kapital yang dibutuhkan serta keahlian manajemen yang diperlukan untuk mengoperasikan usaha yang menguntungkan.

    Perbedaan pemikiran antara kedua kubu ini sangat mempengaruhi sistem perekonomian di dunia. Sampai dengan resesi besar pada awal pada tahun 1930-an, teori klasik masih diunggulkan oleh sebagian besar ilmuwan ekonomi. Semenjak terjadinya resesi besar, ternyata mekanisme pasar tidak dapat mengangkat perekonomian dari krisis ekonomi. Selanjutnya muncul aliran pemikiran baru yang dipelopori oleh John Maynard Keynes, yang mencoba memperbaiki pemikiran ekonomi dengan mengambil ide dari pemikiran kaum klasik dan pemikiran kaum sosialis. Sampai di sini pemikiran ekonomi terbagi menjadi tiga aliran besar, yaitu aliran klasik dengan pemikiran kebebasan pasar, aliran sosialis yang meyakini bahwa mekanisme pasar adalah suatu kejahatan kaum kapitalis, dan aliran keynes yang menggabungkan kedua pemikiran kaum klasik dan sosialis.

    Pergelutan pemikiran ekonomi masih belum selesai sampai pada saat ini. Sebelum sampai pada pembahasan mengenai pemikiran Keynes, dalam makalah ini hanya akan dibahas mengenai perbedaan pemikiran antara kaum klasik dan kaum sosialis.

    Sosialisme terbagi menjadi 2 aliran yaitu aliran Sosialis Utopis dan aliran “Scientific Socialism.” Engels menjelaskan bahwa kaum Sosialis Utopis menentang organisasi masyarakat yang sudah ada, tetapi tidak dapat menerangkannya, kaum Sosialis Utopis hanya dapat menolaknya sebagai sesuatu yang immoral. Sedangkan Sosialisme yang dikembangkan oleh Marx dan Engels dikenal sebagai “Scientific Socialism.”

    Kaum Utopis menggambarkan masyarakat yang diidam-idamkan atau dengan menciptakan suatu masyarakat percontohan dengan mendirikan perkampungan. Kaum Utopis percaya bahwa keadaan masyarakat pada umumnya dapat diperbaiki.

    Nama Utopis diambil dari buku Thomas More, Kanselir Inggris di masa pemerintahan Raja Henry VIII yang diterbitkan pada tahun 1816 yang berjudul tentang keadaan negara yang terbaik dan tentang pulau yang baru Utopia. Di pulai Utopia tidak akan ada lagi milik perorangan, hari kerja ditetapkan sampai jam 6 dan baik laki-laki maupun perempuan diwajibkan bekerja. Kewajiban belajar yang umum bagi anak laki-laki maupun perempuan serta kebebasan agama yang mutlak.

    Francis Bacon menulis buku Nova Atlantis (1623). Francis Bacon berpendapat bahwa masyarakat yang diidam-idamkan adalah saat orang-orannya memiliki keinsyafan yang sempurna dalam hukum-hukum alam, segala kebodohan, kejahilan dan prasangka sudah ditaklukan.

    Thomas Carpanella dalam bukunya berjudul negara Surya (Civitas Solis) mengetengahkan persoalan sosial. Seperti tulisan More yang menganjurkan pendidikan yang sama antara anak laki-laki dan perempuan sebagai salah satu syarat untuk mendirikan masyarakat yang lebih baik, akan tetapi menurut Carpanella, keluarga tidak menjadikan dasar pendidikan yang baik bagi masyarakat, oleh karena itu di dalam negara Surya, setelah anak berumur 3 tahun harus diserahkan kepada negara. Jika segalanya menjadi milik bersama, maka dalam 1 hari sudah cukup bekerja selama 4 jam saja setiap orang dan tidak perlu ada lagi budak belian.

    James Harrington pada sekitar abad ke-17 menerbitkan buku “Oceana“. Harrington dianggap sebagai perintis materialisme historis, karena hendak menerangkan organisasi negara dari fakta-fakta materi (zat), yakni dari cara pembagian tanah. Jika tanah menjadi milik satu orang maka disebut monarchi, bila tanah terbagi di antara beberapa orang disebut aristokrasi (pemerintahan kaum ningrat). Sedangkan dalam demokrasi setiap orang mempunyai sebidang tanah. Vairasse d’Allais menggambarkan dalam Historie des Sevarambes (1680) suatu negara sebagai negara cita-cita yang semua tanah dan juga semua hak milik menjadi kepunyaan negara. Abbe Morelly memandang dalam bukunya Code de la Nature (1755) milik perseorangan itu sebagai sumber segala ketidak adilan kemasyarakatan.

    Selama revolusi Perancis, Gracchus Babeuf dalam surat kabar Tribune du Peuple membela paham seperti dikemukakan Morelly. Dalam pendapatnya direncanakan penghapusan hak milik perseorangan. Dalam hal ini juga dihapuskan warisan dan selanjutnya orang-orang secara sukarela boleh menyerahkan milik mereka kepada negara. Pembagian yang tepat daripada kemakmuran atas semua golongan penduduk, akan mengakibatkan bahwa setiap orang hanya beberapa jam saja bekerja sehari.

    Pieter Corneliszoon Plockhoy pada tahun 1659 mengeluarkan rencana pembaharuan sosial di Inggris. Dalam pokok pikirannya, Plockhoy menganjurkan mendirikan suatu masyarakat yang lebih baik di Amerika Utara. Pendapat Plochoy yang disambut oleh Marx adalah rencana mendirikan koloni-koloni yang di dalamnya orang bekerja sama untuk tujuan bersama dan hasilnya dibagi-bagi di antara penduduk koloni tersebut. Dalam hal ini, modal merupakan milik bersama.

    R. Owen termasyur karena propagandanya untuk mendirikan koperasi konsumsi. Salah satu hasil nyata Owen adalah “Rochdale Society of Equitable Pioneers” pada tahun 1844. Koperasi ini didirikan oleh sekitar 40 orang buruh pabrik tenun. Mereka mengumpulkan modal sebesari £ 28, dan setiap minggu menyetor uang sebesar 2 pence. Koperasi konsumsi yang pertama berkembang menjadi badan usaha yang besar dan kuat dan memperoleh pengikut tidak hanya di Inggris tetapi juga di negara lain.

    Usaha Owen untuk mempraktikkan ajaran nilai dengan mendirikan sebuah “National Equitable Labour Exchange” suatu gudang, di mana tiap orang boleh membawa hasil-hasil yang dibuatnya dan kemudian dipertukarkan atas dasar jumlah kerja yang dipergunakan masing-masing. Usaha ini gagal karena kecurangan dalam menaksir nilai barang. Koloni yang didirikan di Amerika yang disebut “New Harmony” kandas karena perselisihan penduduk di koloni yang bersangkutan. Selama Owen yang memimpin sendiri pabriknya, semua berjalan baik, tetapi setelah hendak melaksanakan cita-citanya dalam masyarakat timbul kesulitan-kesulitan.

    Di Israel berkembang Zionisme yang diambil dari Chiliasme dan berkembang di negara tersebut. Mereka mendirikan koloni yang berhasil baik dan mendasarkan atas koperasi yang sosialistik (Kibbutz).

    Golongan Utopis sendiri digolongkan menjadi tiga kelompok

    1. Para penulis roman yang menggambarkan cita-cita dunia baru.
    2. Para pendiri koloni yang ingin mempraktekkan masyarakat sosialis.
    3. Para ahli ekonomi yang melalui analisis ekonominya mengusulkan perubahan radikan di dalam masyarakat. Tokohnya adalah Henri de Saint Simon, Charles Fourier, Louis Blanc, Piere Joseph Proudhon dan Edward Bellamy.

    Saint Simon membela dalil, bahwa semua anggota masyarakat harus bekerja untuk perbaikan hidup kesusilaan dan jasmani orang miskin dan bahwa masyarakat harus menyusun diri untuk dapat mencapai maksud ini (Nouveau Christianisme, 1852). Menurut Saint Simon, mengupah buruh menurut kesanggupannya bukan menurut kebutuhannya.

    Charles Fourier mengemukakan rencana agar orang dikumpulkan dalam rombongan yang ditempatkan dalam sebuah rumah perkumpulan dari kurang lebih 1500 orang yang disebut FALANX (Nouveau Monde Industriel et Socetaire, 1829). Mereka akan berdiam bersama dalam “Phalansteres” di mana mereka akan berproduksi dan berkonsumsi atas dasar koperasi. Dalam hal ini Fourier menilai bahwa masing-masing warga masyarakat mempunyai hak bekerja dan mereka harus dihindarkan dari kebosanannya (monotonie). Oleh karena itu di dalam Phalansteres pekerjaan sifatnya berubah-ubah. Dalam Phlansteres tiap orang akan mendapat sebagian, yang memungkinkan dia memenuhi kebutuhan hidupnya, yang lainnya akan dibagikan antara kerja, modal, dan keahlian (kecakapan) dengan cara berturut-turut 5/12, 4/12, 3/12.

    Di Perancis didirikan Phalansteres tapi gagal karena kekurangan modal. Di Amerika Serikat antara tahun 1840-1850 tidak kurang 40 Phalansteres didirikan melalui propaganda Albert Brisbane, antara lain Brook Farm di Massachusetts. Tetapi percobaan ini gagal.

    Louis Blanc dalam bukunya Organisation du Travail (1839) membela hak atas kerja. Louis Blanc mengusulkan mendirikan “Ateliers Socaiaux” yaitu pabrik-pabrik yang dipimpin oleh negara, para pekerja mendapat upah yang pantas dan bagian dalam keuntungan. Oleh karena produktifitas pekerja karena mendapatkan bagian keuntungan diharapkan Alterliers Sociaux ini menang dalam persaingan. Sehingga lambat laun perusahaan swasta akan sukarela minta diubah menjadi ateliers sociaux. Sewaktu Louis Blanc duduk dalam pemerintahan revolusioner Perancis pada tahun 1848, didirikanlah ateliers nationaux. Tetapi kegiatan ini gagal karena sabotase, para buruh disuruh mengerjakan pekerjaan yang tidak produktif.

    Pendapat Piere Joseph Proudhon agak berbeda dengan tokoh sosialis lainnya, Piere Joseph Proudhon tidak berpendapat bahwa milik perseorangan adalah sumber segala kejahatan. Pemerasan dapat dihindarkan jikalau ada sebuah bank sirkulasi yang memberi kredit dengan cuma-cuma ini akan melenyapkan segala pembedaan pertetangan kelas dan membuat adanya negara tidak perlu. Proudhon ingin membentuk masyarakat kolektif yang bebas atas dasar pembagian kerja. Proudhon melahirkan salah satu paradox yakni “Anarchi“, tujuan kemajuan masyarakan bebas ialah membuat negara tidak perlu. Bentuk tertinggi daripada pemerintahan ialah “Harmoni Anarchi” dan ketertiban. Proudhon adalah yang pertama, yang menuju anarchi tidak sebagai tindakan revolusioner, tetapi sebagai bentuk tertinggi daripada organisasi sosial.

    Edward Bellamy, seorang ahli ekonomi utopis, menulis buku Looking Backward pada tahun 1887, dalam negara cita-citanya terdapat kewajiban bekerja dari 21 sampai 45 tahun. Pekerjaan-pekerjaan yang kurang enak dilakukan dalam waktu pendek dibandingkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang menyenangkan. Dari hasil yang dibuat setiap orang akan dibagi sama rata. Sedangkan upah tidak tergantung dari jumlah barang yang dihasilkan, tetapi semata-mata ditetapkan oleh tenaga-tenaga yang dipergunakan di mana untuk tenaga yang sama diberi upah yang sama. Setiap penduduk pada permulaan tahun dikreditkan dalam buku besar nasional untuk bagiannya dalam pendapatan masyarakat. Pada akhir tahun dikurangkanlah dari sini apa yang diterimanya dari persediaan negara untuk memenuhi kebutuhannya.

    Penyempurnaan ajaran nilai kerja oleh Richardo membuahkan ajaran nilai lebih oleh Marx. Menurut teori ini para kapitalis melakukan pencurian terhadap kaum buruh. Marx menjelaskan bahwa para kapitalis ingin memperlihatkan kepada para buruh yang tidak memiliki apa-apa selain dari tenaga kerjanya seakan-akan dibayar penuh sebanding dengan nilai tukarnya, sedangkan para kapitalis memegang nilai pakai. Sebagai ganti rugi atas penggunaan tenaga kerjanya, buruh memperoleh upah untuk memelihara kehidupan dan keluarganya. Tetapi dikarenakan kekuasaan hukum harga, para buruh tidak mungkin memperoleh ganti rugi penggunaan tenaga kerjanya secara penuh. Sehingga nilai pakai semakin naik daripada nilai tukar. Pendapat ini bertentangan dengan pendapat Mill.

    Nilai lebih (m = mehrwerte) dihitung dengan mengurangkan jam kerja menurut undang-undang dengan waktu kerja yang diperlukan untuk memberi kehidupan dirinya dan keluarganya. Sedangkan derajat pemerasan adalah pembagian antara nilai lebih dengan modal variabel (m/v). Tingkat keuntungan menurut Marx tergantung pada perbandingan antara nilai lebih di satu pihak dan jumlah modal variabel (v) dan konstan (c) di pihak lain (m/(v+c)).

    Marx membedakan nilai lebih dengan nilai mutlak dan relatif, nilai mutlak dapat bertambah dengan perpanjangan waktu kerja. Nilai relatif diperbesar dengan menurunkan upah dengan pemakaian mesin yang mempergunakan tenaga kerja anak-anak.

    Selanjutnya marx menyampaikan dalil, bahwa sekalipun nilai tergantung dari kerja, namun harga tidak ditentukan oleh nilai, tetapi oleh persaingan. Persaingan mengakibatkan modal mengalir kepada cabang usaha dengan tingkat keuntungan yang tinggi dan meninggalkan tingkat keuntungan yang rendah. Akibatnya di suatu tempat penjualan barang di atas nilai dan di tempat lain di bawah nilai di mana hal ini berjalan lama, sampai setiap modal mendapat untung sebanding dengan modal. Penukaran tidak lagi dilakukan dengan perbandingan nilai (c + v + m), tetapi menurut harga produksi (c + v + untung rata-rata). Dengan ini sebenarnya Marx sudah meninggalkan maksud seluruhnya daripada ajaran nilainya, bukan jumlah kerja lagi yang mengatur harga, tetapi biaya produksi. Marx tiba pada teori harga Anglo-Amerika, ialah teori yang dengan berbagai variasi, sekarang ini umum diterima orang. Dengan ini pula ajaran nilai lebih kehilangan dasar teoritisnya di mana tidak dapat mengubah pembagian penghasilan masyarakat.

    Kaum “scientific socialism” terkenal bukan dari ajaran nilai lebih, akan tetapi pandangan mereka tentang perkembangan masyarakat, yang menurutnya serta merta menuju kepada masyarakat sosialistis. Di sini letak perbedaan antara kaum sosialis dan kaum physiokrat. Marx melihat kategori masyrakat sebagai satuan yang tergantung waktu, sedangkan kaum physiokrat melihat satu satuan yang tetap dan sesuai dengan alam dalam kategori teori ekonomi mereka.

    Marx yakin akan kedatangan chiliasme sudah pasti menurut ilmu, tetapi dapat dipercepat oleh organisasi politik kaum proletar. Marx berpendapat bahwa negara tidak lain daripada suatu lembaga yang dipergunakan kelas yang berkuasa untuk memeras kaum tertindas, dalam hal ini sewaktu Marx menulis bukunya, kaum buruh hampir tidak dapat mempunyai pengaruh dalam pemerintahan. Marx yakin dalam negara sosialis tidak ada lagi penindasan. W. I. Lenin mempelajari perkembangan negara menjadi masyarakat yang sosialistis. Lenin berpendapat bahwa kaum proletar dalam taraf pertama sesudah revolusi terpaksa melakukan diktatur untuk membasmi kaum borjuis.

    Semangat Marx akan kedatangan masyarakat sosialis dicoba diterangkan atas dasar-dasar ekonomi. Marx mengemukakan 4 hukum gerak:

    1. Teori Konsentrasi.
    2. Teori Akumulasi,
    3. Teori Verelendung
    4. Teori Krisis

    Menurut teori konsentrasi, perusahaan semakin besar dikarenakan adanya akuisisi atau merger, sedang jumlahnya semakin sedikit. Perusahaan kecil dan menengah kalah dalam persaingan dan lenyap. Perngusaha menengah dan kecil akan jatuh miskin. Sebaliknya penghasilan dan laba menumpuk pada beberapa orang saja (teori akumulasi). Selebihnya menjadi proletar. Menurut teori Verelendung yang erat hubungannya dengan hukum quota upah yang menurun dari Robertus, maka taraf kemakmuran kaum proletar semakin mundur.

    Kemiskinan dibedakan menjadi 3 yaitu teori kemiskinan yang mutlak, relatif dan fiktif relatif. Menurut teori kemiskinan mutlak, para buruh selama perkembangan kapitalisme menjadi mundur dalam arti yang mutlak di mana untuk kegiatan bekerja yang sama mereka selalu menerima jumlah barang yang mutlak lebih sedikit (diperkuat oleh temuan Juergen Kuczyunsky, seorang penulis komunis Jerman, dengan angka statistik yang membuktikan bahwa kehidupan para buruh semakin buruk, meskipun golongan buruh yang bersekolah kemakmurannya menjadi lebih baik). Teori kemiskinan relatif dinyatakan meskipun jumlah upah mutlak yang diterima bertambah tetapi prosentase jumlah upah dibandingkan dengan pendapatan nasional semakin menurun. Teori kemiskinan fiktif relatif menyatakan bahwa quota upah tidak akan menjadi kurang, bilamana tenaga produktif yang ada dapat dimanfaatkan, tetapi bila tidak demikian halnya maka justru upah akan turun. Mark menunjukkan adanya upaya kaum kapitalis untuk mengupayakan menggantikan sebagian tenaga buruh dengan sejumlah alat produksi mesin yang disebutnya “tentara cadangan industri.”

    Dalam teori krisis, Marx mengemukakan adanya perkembangan konjuntur yang naik dan turun. Dalam hal ini seringkali terjadi kekurangan modal ataupun terjadi permintaan barang yang tidak seimbang (produksi melimpah, daya beli berkurang) dan berakibat terjadinya krisis. Bila terjadi krisis maka tiba saatnya untuk mengubah masyarakat kapitalis ke dalam masyarakat sosialis dengan revolusi.

    Lawrence B. Klein (The Keynesian Revolution, 1947) menunjuk kepada anggapan Marx bahwa ada perbandingan yang tetap antara kelebihan nilai dengan jumlah upah seluruhnya dan selanjutnya mengemukakan contoh Marx lagi dalam suatu sistem lima perbandingan dengan lima faktor yang tidak diketahui.

    Pemikiran Marx baru sampai pada pembuktian bahwa masyarakat kapitalis terpaksa harus berubah menjadi masyarakat yang sosialis. Bagaimana rupa masyarakat sosialis belum sempat dibicarakannya. Ada yang berpendapat bahwa Marx berhenti saat seharusnya dia memulai.

    Setelah revolusi Bolsyewiki tahun 1917, Uni Sovyet mencoba melaksanakan sistem perencanaan terpusat. Von Mises (1920) membuat tulisan yang menyatakan bahwa produksi yang direncanakan, secara ekonomis adalah tidak mungkin dan tiap langkah yang dilakukan ke arah sosialisasi adalah juga langkah ke arah produksi irrational. Meskipun pengalaman Uni Sovyet selama lebih 6 dekade selalu berjalan mulus perekonomiannya, tetapi mulai dekade ke-8 ternyata tidak mampu bertahan.

    Rosa Luxemburg (1913) berpendapat bahwa kesimpulan teori Marx bahwa dalam sistem kapitalisme di mana hanya terdapat kaum kapitalis dan kaum buruh saja, maka kaum buruh tidak akan mungkin mengambil bagian yang cukup dari pendapatan masyarakat. Keadaan ini disebut sebagai “Reiner Kapitalismus” yang mengakibatkan “crisis en permanence.” Bentuk kapitalisme ini tidak akan ada, karena selalu ada sebagian hasil dari itu terjual pada pihak ketiga (masyarakat agraris dan ke wilayah-wilayah lain). Jika kegiatan ekonomi kapitalistik tadi semakin berkembang maka masalah penjualan produk menjadi masalah yang sangat mendesak. Untuk itu terjadilah dorongan untuk ekspor dan monopoli di pasaran luar negeri serta menuju penetrasi politik dan ekonomi di negara terbelakang. Pendudukan daerah ini dengan kekuatan militer dan ekonomi untuk menjamin kelangsungan penjualan. Imperialisme ini menurut teori Marx adalah syarat untuk mempertahankan apa yang disebut taraf kapitalis lambat. Menurut Marx, para buruh di negara imperalis tidak akan menikmati hasil imperialisme, dan bersamaan dengan pelenyapan pertentangan kelas akan hilang pula pertentangan antara negara yang diperas dengan negara pemeras. Ekspor kapital mengakibatkan pertumbuhan produksi dalam industri ekspor di negara penjajah, dan oleh karenanya imperalisme itu timbul sebagai outomatisme mengatasi krisis di negeri penjajah. Berkurangnya keuntungan di negeri penjajah berimplikasi pada mundurnya penanaman modal di negeri penjajah sehingga bertambahnya ekspor modal yang berimplikasi pada perluasan produksi dalam industri barang ekspor, selanjutnya menyebabkan bertambahnya keuntungan di negara penjajah, dan bertambah pula penanaman modal dalam negeri penjajah. Dari semuanya ini ternyata teori imperalisme meminta perhatian yang lebih banyak daripada yang lazim diperlihatkan oleh “ahli ekonomi borjuis.”

    Pembahasan mengenai pemikiran kaum sosialis dan pemikiran kaum klasik menjelaskan bahwa ada persamaan dan perbedaan. Seorang tokoh klasik bernama David Ricardo (1772-1823) menyatakan bahwa pembagian pendapatan masyarakat merupakan soal terpenting daripada soal ilmu ekonomi. Adam Smith sendiri memfokuskan pemikirannya kepada kemakmuran. Marx sendiri mempunyai cita-cita untuk menciptakan suatu masyarakat yang makmur. Pemikiran kaum klasik dan kaum sosialis sama-sama bertujuan untuk mencapai kemakmuran. Akan tetapi ada perbedaan mendasar antara pemikiran kaum sosialis dan aliran klasik yaitu terletak pada cara untuk mencapai kemakmuran. Ada yang menyebutkan bahwa cara untuk mencapai kemakmuran menurut kaum klasik bersifat konservatif, sedangkan cara kaum sosialis bersifat radikal.

    Kaum klasik mempercayai bahwa apabila setiap orang dibebaskan untuk bertindak mengejar keuntungan individu, maka tanpa disadarinya mereka akan memberikan kontribusi kepada masyarakat, sehingga kaum klasik percaya adanya “invisible hand” yang menuntun, sehingga tercapainya kemakmuran. Kemakmuran tercapai oleh mekanisme pasar yang harmonis secara alamiah sehingga menciptakan keuntungan diantara individu.

    Kaum sosialis (“scientific socialism“) sendiri lebih percaya bahwa kemakmuran akan tercapai bila masing-masing individu tidak mengejar keuntungan pribadi akan tetapi memberikan seluruhnya kepada masyarakat sehingga diharapkan seluruh anggota masyarakat dapat menikmati hasil secara merata. Kaum sosialis mengutuk para kapitalis yang dianggap memeras kaum buruh, kaum sosialis menganggap pemerintah yang pro kapitalis tidak akan pernah memperhatikan kesejahteraan kaum proletar, sehingga satu-satunya cara untuk mencapai kemakmuran adalah dengan menumbangkan pemerintahan yang kapitalis dan digantikan oleh pemerintahan baru yang pro dengan buruh. Kaum sosialis tidak percaya bahwa distribusi kekayaan menurut sistem kapitalis dapat bersifat adil bagi masyarakat kebanyakan.


    Share on Facebook Delicious Bookmark this on Delicious

    Mazhab Austria

    Mar. 10, 2008

    Air dan udara memiliki nilai penukaran yang rendah, padahal air dan udara memiliki nilai kegunaan yang tinggi. Sebuah lukisan, patung, dan anggur yang tidak memiliki kegunaan yang tinggi berharga sangat mahal. Seorang tokoh klasik, Richardo, sampai pada akhir hayatnya masih belum memahami kenapa anggur yang disimpan dalam gudang selama 3 atau 4 hari, atau mengapa pohon oak yang nilainya tak lebih dari 2 sen sebelum diolah, tetapi kemudian muncul menjadi senilai 100 pound.
    Sekitar tahun 1870 timbul hampir bersamaan di Austria, Perancis dan Inggris suatu ”ajaran nilai baru” yang dikemukakan oleh Karl Menger, Leon Walras dan W. Stenley Jevons. Teori baru ini menempatkan konsumen sebagai obyek penilai terakhir di pusat perhatian ekonomi. Nilai sesuatu barang harus dijelaskan bahwa sesuatu barang mempunyai kesanggupan untuk memenuhi kebutuhan. Dengan perkataan lain, suatu barang mempunyai nilai karena barang itu memberikan nilai guna bagi subyek penilai.
    Nilai guna bagi seseorang dengan seorang yang lain dapat berbeda. Sesorang dapat saja mengatakan bahwa sebuah lukisan tidak berharga karena dia tidak menyukai seni, sebaliknya bagi seorang pecinta seni, lukisan Picasso sanggup dia bayar dengan harga mahal. Kegunaan barang juga dipengaruhi unsur subyektifitas. Penduduk Jakarta rela membayar air bersih lebih mahal daripada harga yang akan dibayar oleh penduduk di daerah Wonosobo.
    Nilai penukar menurut mazhab Austria harus dituangkan dari nilai pemakaian yang subyektif, jadi dari arti barang itu untuk kesejahteraan subyek ekonomi. Selain dari pada nilai pemakaian subyektif dan obyektif ada lagi pengertian nilai penukar obyektif dan subyektif. Nilai penukar obyektif adalah sebagai pengertian untuk menyatakan harga dalam lalu lintas pertukaran, sedang nilai penukar subyektif menyatakan arti barang itu dalam pertukaran bagi kesejahteraan subyek. Jadi ajaran nilai subyektif menurut mazhab Austria adalah hubungan antara subyek ekonomi dan barang. Bagi seorang direktur sebuah perusahaan bonafide, pena montblanc yang berharga jutaan rela dibayatnya karena menurutnya berguna untuk menaikkan gengsinya, lain halnya bagi seorang mahasiswa arsitektur, pena rotring baginya lebih berguna dan rela dia bayar dengan harga yang pantas menurutnya.
    Mazhab Austria telah memecahkan soal antinomi nilai, yaitu paradoks ekonomi yang tak terpecahkan oleh kaum klasik dan yang mengatakan bahwa barang yang mempunyai nilai pemakaian yang terbesar seperti air dan hawa justru mempunyai nilai penukaran yang paling sedikit. Dalam hubungan ini, menurut mazhab Austria, nilai sesuatu barang harus diterangkan bahwa sampai seberapa jauh barang yang bersangkutan mempunyai kesanggupan untuk memenuhi kebutuhan.
    Untuk memecahkan soal antinomi nilai ini, Menger mengemukakan pembedaan antara kegunaan jumlah seluruhnya suatu barang dan kegunaan satuan tertentu yang ditambahkan atau dikurangkan dari persediaan yang ada. Dalam menilai barang maka harus diperhatikan tidak hanya kegunaanya, tetapi juga harus dipertimbangkan tentang kelangkaanya (scarcity).
    Gossen mengemukakan hukum kejenuhan (law of diminishing utility). Selanjutnya Menger berusaha menjawab soal bagaimana konsumen dalam harga tertentu daripada barang-barang akan membagi pendapatannya atas berbagai kategori kebutuhan. Contohnya, seorang konsumen dari penghasilannya akan mempergunakan empat satuan guna untuk kebutuhan makanannya, tiga satuan guna untuk perumahan, dua satuan guna untuk pakaian, dan satu satuan guna untuk sepatu.
    Von Bohm Bawerk menunjukkan adanya persaingan pada kedua belah pihak antara penjual dan pembeli yang selanjutnya menyatakan ada 4 faktor yang mempengaruhi tingginya harga:
    1. Jumlah barang-barang yang dikehendaki
    2. Tinggi angka-angka taksiran di pihak para pembeli.
    3. Jumlah barang yang ditawarkan.
    4. Tinggi angka-angka taksiran di pihak para penjual
    Mazhab Austria menganalisis tentang pembentukan harga diikuti oleh teori pembagian hasil masyarakat yang diketengahkan oleh Menger. Von Bohm Bawerk dan von Wieser yakin bagaimana membagi pendapatan masyarakat kepada faktor-faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi. Harga-harga faktor produksi merupakan nilai turunan daripada final product-nya.
    Von Thunen menyelidiki tentang terjadinya hukum kelebihan hasil yang semakin berkurang. Menurut hukum ini penambahan salah satu faktor produksi dengan faktor produksi yang lain tetap, dalam satu proses produksi, mengakibatkan penambahan hasil produksi yang bilamana dilaksanakan terus menerus maka tambahan hasilnya semakin berkurang (law of diminishing return).
    Teori bunga von Bohm Bawerk menyatakan bahwa bunga adalah agio tiap satuan waktu daripada nilai yang diberikan kepada pemakaian sekarang, atas pemakaian kelak sesuatu barang. Ada 3 alasan mengapa subyek ekonomi biasanya memberi nilai lebih tinggi kepada barang-barang sekarang daripada kepada barang-barang kelak yang sama macamnya:
    1. Perbedaan dalam perbandingan antara kebutuhan dan alat-alat pemuas kebutuhan dalam beberapa waktu, orang menghargai lebih tinggi yang sekarang daripada yang akan datang. Bunga adalah sebagian dari harga yang dibayar orang untuk barang-barang sekarang.
    2. Besarnya bunga merupakan titik keseimbangan di pasaran tempat penukaran barang sekarang dan kelak.
    3. Kedudukan bunga ditetapkan oleh keuntungan yang menjadi bagian pemodal dalam keadaan keseimbangan.
    K. Wicksell menyatakan besarnya bunga yang biasa (natural rate of interest) adalah sama dengan bunga yang terjadi dalam suatu masyarakat tanpa uang pada titik keseimbangan permintaan akan barang-barang modal dan penawaran penghematan-penghematan, keduanya dihitung dalam barang-barang, sebagai penukaran barang-barang sekarang dengan barang-barang masa kelak. Richard menyatakan “the real rate of interest is not regulated by the rate at which the bank will lend, but by the rate of profits which can be made by the employment of capital.”


    Share on Facebook Delicious Bookmark this on Delicious

    Peranan Pertanian dalam Pembangunan

    Mar. 10, 2008

    Oleh: Yohan Naftali

    PENGANTAR
    Pada makalah ini akan dibahas mengenai peran pertanian dalam pembangunan. Pada bagian awal akan dijelaskan mengenai kontribusi pertanian dalam mencapai keberhasilan pembangunan. Konsep strategi pembangunan berimbang merupakan tujuan pembangunan yang paling ideal. Akan tetapi negara berkembang tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk melaksanakan pembangunan di bidang pertanian dan industri sekaligus. Sehingga pemerintah negara berkembang harus menekankan pada pembangunan di sektor pertanian terlebih dahulu sebagai batu loncatan untuk pembangunan di bidang industri.
    Bagian kedua menjelaskan masalah harga produk pertanian. Di sini dipermasalahkan apakah harga harus ditentukan oleh mekanisme pasar ataukah ditentukan oleh pemerintah, harga pertanian yang mahal akan menyebabkan konsumen tidak mampu membeli, di lain pihak harga pertanian yang terlalu murah akan menghambat produktivitas pertanian. Selain itu pada bagian kedua juga akan dibahas mengenai konsekuensi adanya penetapan harga. Disarankan bahwa harga seharusnya dibentuk melalui mekanisme pasar, intervensi pemerintah justru akan menimbulkan masalah. Di Indonesia sendiri, pemerintah Indonesia memegang kendali harga melalui Bulog, dengan tujuan melindungi petani, akan tetapi banyak kebijakan yang dipertanyakan seperti kebijakan impor beras dari luar negeri dengan tujuan menstabilkan harga. Hal ini justru membuat rakyat berpikir kalau pemerintah ingin menekan harga pertanian serendah mungkin, sebagai upaya menahan laju inflasi. (continue reading…)


    Share on Facebook Delicious Bookmark this on Delicious

    Globalisasi

    Mar. 10, 2008

    Heizer and Render (2005) menjelaskan bahwa alasan globalisasi dibagi menjadi alasan yang berwujud sampai dengan alasan yang tak berwujud.

    Alasan Globalisasi

    Salah satu contoh globalisasi adalah Maquiladoras. Maquiladoras adalah sebuah zona perdagangan bebas (free trade zones) yang terletak di Mexico.

    Tujuan dari Maquiladoras ditinjau dari sudut pandang globalisasi adalah untuk mengurangi biaya pajak dari perusahaan manufaktur dengan hanya membayar nilai tambah yang diberikan oleh pekerja mexico. Contohnya pada perusahaan manufaktur Amerika Serikat seperti IBM merakit komputer seharga $500 ke maquiladoras dengan biaya tenaga kerja $25, pajak hanya pada biaya $25.

    Kerjasama ini menguntungkan kedua belah pihak, dari sisi Amerika Serikat, perusahaan manufaktur dapat mengurangi biaya produksi sehingga produk mereka dapat lebih berkompetensi dengan produk negara lain, dari sisi Mexico, banyak tenaga kerja yang diserap oleh perusahaan manufaktur, sehingga mengurangi pengangguran. Pemindahan pekerjaan low-skilled ke negara lain oleh Amerika memiliki 3 keuntungan:
    i. Mengurangi biaya tenaga kerja
    ii. Membebaskan pekerja yang berbiaya lebih tinggi untuk melakukan pekerjaan yang memiliki nilai lebih tinggi
    iii. Keuntungan dari pengurangan biaya tenaga kerja memberikan perusahaan tersebut untuk mempunyai dana lebih yang dapat diinvestasikan dalam pengembangan produk dan fasilitas.


    Share on Facebook Delicious Bookmark this on Delicious

    Keseimbangan Serentak Kurva IS-LM

    Feb. 24, 2008

    Asumsi:

    – Output bertambah apabila permintaan agregat (AD) lebih besar dari penawaran agregat (AS). Hal ini sesuai dengan motif perusahaan. Sebaliknya apabila AD lebih kecil dari AS output akan berkurang.
    - Tingkat bunga akan naik apabila permintaan terhadap uang (D) lebih besar daripada penawaran uang (S) dan sebaliknya. Penyesuaian terjadi karena apabila ada kelebihan permintaan terhadap uang, akan terjadi penjualan asset (surat berharga, obligasi) atau penarikan tabungan sehingga harga turun, tetapi tingkat bunga (obligasi) naik.

    Keseimbangan Serentak Kurva IS-LM


    Share on Facebook Delicious Bookmark this on Delicious

    Ekuilibrium Permintaan dan Penawaran Jumlah Uang

    Feb. 24, 2008

    Pada titik E3 terjadi kelabihan supply/penawaran “Real Balance” (ESM), merupakan titik ketidakseimbangan berdasarkan kurva permintaan L1. Pada titik E4 terjadi kelebihan permintaan terhadap “Real Balance” (EDM). Hal tersebut berdasarkan kurva L2. Pada semua titik di sebelah kiri atas kurva LM terjadi kelebihan supply uang (ESM), dan untuk semua titik di bawah sebelah kanan kurva LM terjadi kelebihan permintaan terhadap uang (EDM). Pada titik di luar kurva LM hanya bersifat sementara, karena akan untuk mempertahankan keseimbangan terhadap “Real Balance”.

    Ekuilibrium Permintaan dan Penawaran Jumlah Uang


    Share on Facebook Delicious Bookmark this on Delicious

    Ekuilibrium dan Disekulibrium pada Kurva IS

    Feb. 24, 2008

    Kurva IS menggambarkan tempat kedudukan tingkat bunga yang menghasilkan pendapatan dalam keadaan ekuilibrium di mana permintaan agregat sama dengan penawaran agregat. Titik-titik yang ada di luar kurva IS merupakan kondisi dalam keadaan disekuilibrium.

    Ekuilibrium dan Disekulibrium pada Kurva IS

    Titik E3 adalah titik yang terletak di sisi kiri dari kurva IS, titik E3 terletak pada kurva permintaan agregat setelah tingkat bunga diturunkan dari i1 menjadi i2. Pada titik E3 terjadi kelebihan permintaan dibanding penawaran, karena tingkat bunga yang terlalu rendah mendorong permintaan agregat, sehingga melebihi penawaran (supply) pada pendapatan Y1. Jadi untuk setiap titik di luar IS yang terletak di sebelah kiri terjadi kelebihan permintaan untuk barang-barang (EDG = Excess Demand for Goods). Pada titik E4 terdapat kelebihan penawaran, karena tingkat bunga tinggi sehingga permintaan agregat lebih kecil. Jadi untuk setiap titik di sebelah kanan kurva IS terjadi kelebihan penawaran (supply) di pasar barang (ESG = Excess Supply of Goods)


    Share on Facebook Delicious Bookmark this on Delicious

    Kurva IS dan LM

    Feb. 24, 2008

    A. Membentuk Kurva IS dengan pendekatan 2 Diagram

    Kurva IS pendekatan 2 Diagram

    1. Pada tingkat bunga pada i1 maka kurva permintaan agregat adalah pada kurva a + bY + e – f.i1, maka pendapatan nasional equilibrium pada Y1.
    2. Titik E1 pada diagram pertama terbentuk dari perpotongan antara kurva a + bY + e – f.i1 dan garis 45o.
    3. Titik E1 pada diagram kedua merupakan perpotongan garis yang ditarik dari titik E1 pada diagram pertama dengan garis i1 pada diagram kedua.
    4. Bila tingkat bunga pada i2, maka kurva permintaan agregat adalah pada kurva a + bY + e – f.i2, pendapatan nasional equilibrium pada Y2.
    5. Titik E2 pada diagram pertama terbentuk dari perpotongan antara kurva a + bY + e – f.i2 dan garis 45o.
    6. Titik E2 pada diagram kedua merupakan perpotongan garis yang ditarik dari titik E2 pada diagram pertama dengan garis i2 pada diagram kedua.
    7. Dengan menghubungkan titik E1 dan E2 pada diagram kedua, didapatkan kurva IS.

    Dari uraian ini kurva IS bukan kurva yang menerangkan hubungan fungsional antara tingkat bunga dengan pendapatan, akan tetapi merupakan tempat kedudukan setiap tingkat bunga yang menghasilkan pendapatan ekuilibrium di mana penawaran agregat sama dengan permintaan agregat. Kurva IS dapat juga ditafsirkan sebagai multiplier, yaitu perubahan pada pendapatan sebagai akibat pengurangan tingkat bunga, Kurva IS dapat juga ditafsirkan sebagai elastisitas bunga yaitu % perubahan pada pendapatan nasional sebagai akibat perubahan % tingkat bunga.

    B. Membentuk Kurva IS dengan pendekatan 4 Diagram
    Kurva IS pendekatan 4 Diagram

    1. Kuadran (a) adalah kuadran yang menggambarkan keseimbangan antara S dengan I dan antara T dengan G. Dalam perekonomian diasumsikan bahwa semua saving diinvestasikan sehingga S = I, yaitu income dalam ekuilibrium. Demikian juga penerimaan pajak (T) dikeluarkan oleh pemerintah (G), sehingga akhirnya I+G = S+T.
    2. Kuadran (b) adalah kuadran investasi (I) dan pengeluaran pemerintah. Diasumsikan bahwa investasi dipengaruhi tingkat bunga (I = e – f.i), sedangkan pengeluaran merupakan variabel otonomus (G = Go).
    3. Kuadran (c) merupakan diagram penabungan tambah pajak (sebagai padanan dari kuadran (b)). Persamaan penabungan S = -a + bY – bT.
    1. Pada tingkat bunga i1 didapatkan titik A pada kuadran (d).
    2. Pada tingkat bunga i2 didapatkan titik B pada kuadran (d),
    3. Melalui titik A dan titik B dapat dihubungkan kurva IS pada kuadran (d).
    Definisi kurva IS pada pendekatan empat kuadran sama dengan dengan kurva IS pada pendekatan dua kuadran. Kurva IS adalah kedudukan kombinasi tingkat bunga dengan pendapatan di mana terjadi keseimbangan antara aggregate demand dan supply, yaitu S + T = I + G.
    Pada pendekatan empat kuadran memiliki kelebihan pada kuadran (c). Pada kuadran (c) menjelaskan perubahan variabel penabungan dan perpajakan dapat dianalisis pengaruhnya terhadap kurva IS. Kurva IS dengan pendekatan 2 diagram lebih ringkas dibandingkan dengan pendekatan 4 diagram.

    C. Membentuk Kurva LM dengan pendekatan 2 Diagram
    Kurva LM pendekatan 2 Diagram

    1. Penawaran uang merupakan garis tegak lurus (M/P1).
    2. Pada penghasilan tertentu ada permintaan uang, kurva permintaan uangnya adalah L1 = kY – h.i.
    3. Perpotongan kurva permintaan uang (M/P1) dan penawaran uang (L1) terletak pada titik E1 dan menentukan tingkat bunga i1.
    4. Apabila pendapatan bertambah maka kurva permintaan terhadap uang menjadi L2 dan memotong kurva penawaran uang pada E2 sehingga menentukan tingkat bunga i2.
    5. Titik Y1 penghasilan yang bersifat “Given” kedua tingkat bunga i yang terbentuk pada diagram sebelah kiri (permintaan dan penawaran_, kemudian karena penghasilan naik yaitu menjadi Y2, maka permintaan terhadap uang menjadi L2 yang menghasilkan tingkat bunga i2 maka terbentuk kurva LM.

    Kurva LM menggambarkan tempat kedudukan kombinasi tingkat bunga dengan pendapatan, di mana menghasilkan persamaan antara permintaan dan penawaran uang (ekuilibrium). Kurva LM juga menggambarkan pasar uang dalam keadaan ekuilibrium, pada titik-titik sepanjang kurva LM pasar uang ada dalam keadaan ekuilibrium. Metode dua kuadran lebih langsung (straight forward) membentuk kurva LM daripada metode empat kuadran.

    D. Membentuk Kurva LM dengan pendekatan 4 Diagram
    Kurva LM pendekatan 4 Diagram

    1. Pada tingkat pendapatan Y1, ada permintaan uang untuk transaksi sebesar M1t.
    2. Dari perpotongan kurva penawaran uang dan permintaan uang untuk transaksi sebesar M1t dapat ditentukan permintaan uang untuk spekulasi sebesar M1SP (Mo = M1t + M1SP).
    3. Karena ada permintaan uang untuk spekulasi sebesar M1SP, dapat ditentukan tingkat bunga sebesar i¬1 (Kurva MDSP merupakan fungsi dari tingkat bunga) sehingga diperoleh titik A.
    4. Apabila tingkat pendapatan naik menjadi Y¬2, permintaan uang untuk transaksi juga naik menjadi M2t, sehingga permintaan uang untuk spekulasi turun menjadi M2SP (diasumsikan penawaran uang tetap Mo).
    5. Tingkat bunga i2 ditentukan dari perpotongan permintaan uang untuk spekulasi dan kurva permintaan uang untuk spekulasi MDSP.
    6. Perpotongan tingkat bunga i2 dan pendapatan Y2 menentukan titik B.
    7. Kurva LM terbentuk dengan menghubungkan titik A dan B.


    Share on Facebook Delicious Bookmark this on Delicious