• Home
  • Genetik
  • Google
  • Links
  • About
  • History of Economics Theory

    Butir-Butir Analisis Pemikiran Teori Ekonomi dari Para Ahli Filsafat, Kaum Merkantilis dan Kaum Physiokrat Serta Manfaatnya Sampai Dewasa Ini

    Aug. 06, 2008

    Oleh : Yohan Naftali

    Credit to : Prof. H. Masngudi, PhD.










    Jakarta 2006

    BAGIAN I

    Analisis Pemikiran Para Ahli Filsafat

    Pemikiran dari para ahli filsafat telah mempengaruhi pemikiran para ekonom sesudahnya. Teori ekonomi telah dibangun selama berabad-abad dan terus disempurnakan hingga saat ini. Para ahli filsafat telah mengupas dasar-dasar pemikiran ekonomi yang kelak akan dianut, diuji dan diperbaharui oleh para ilmuwan di masa selanjutnya. Ilmu ekonomi sendiri bukan dimulai oleh Adam Smith (1723-1790) yang dikenal sebagai bapak ilmu ekonomi, akan tetapi ilmu ekonomi telah dirintis jauh sebelumnya.

    Plato (427-347 B.C)

    Available from: (http://en.wikipedia.org/wiki/Plato)

    [Accessed 30 April 2006]

    Pemikiran teori ilmu ekonomi telah dirintis oleh para ahli filsafat, dimulai dari ahli filsafat Yunani. Adam Smith (1723-1790) sendiri sebenarnya adalah seorang ilmuwan di bidang filsafat. Sebenarnya ilmu ekonomi memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan ilmu filsafat. Jadi ilmu ekonomi merupakan perkembangan dari ilmu filsafat. Oleh karenanya sangat perlu mempelajari pemikiran dari para ahli filsafat untuk menambah khazanah pengetahuan.

    Xenophon (440-355 B.C.) dan Plato (427-347 B.C) berkontribusi pada awal pemikiran teori ekonomi mengenai untung ruginya pembagian pekerjaan. Dalam karya Plato (427-347 B.C) berjudul Republic mendukung negara-kota ideal yang dikuasai oleh kumpulan raja yang bijaksana. Pemikiran dari para ahli filsafat inilah yang memulai pemikiran awal mengenai ekonomi, di dalam uraian Plato (427-347 B.C) dikemukakan bahwa dengan adanya pembagian kerja maka dapat memberikan kesempatan kepada manusia untuk memilih pekerjaan yang sesuai dengan pembawaanya.

    Xenophon (440-355 B.C)

    Available from: (http://en.wikipedia.org/wiki/Xenophon)

    [Accessed 30 April 2006]

    Pemikiran Plato (427-347 B.C) sedikit banyak juga mempengaruhi pemikiran Adam Smith (1723-1790) yang mengusulkan sistem perekonomian pasar bebas. Walaupun demikian para ilmuwan penganut paham perekonomian pasar bebas menganggap bahwa pemikiran Plato (427-347 B.C) tidak mendukung kebebasan pasar karena adanya peranan pemerintahan yang kuat dalam mengatur ekonomi. Hal ini berbeda dengan pemikiran Aristoteles (384-322 B.C.) yang memberikan dukungan terhadap kebebasan dan sangat mempengaruhi pemikiran Adam Smith (1723-1790) mengenai pembatasan peran pemerintah.


    Aristoteles (384-322 B.C)

    Available from: (http://en.wikipedia.org/wiki/Aristotle)

    [Accessed 30 April 2006]

    Aristoteles (384-322 B.C.) juga telah merintis berkembangnya teori ilmu ekonomi. Dalam kupasan Aristoteles dibedakan antara oikonomi yang menyelidiki peraturan rumah tangga yang merupakan arti asli bagi istilah ekonomi, dan chrematisti yang mempelajari peraturan-peraturan tukar-menukar dan karenanya pemikiran ini dapat disebut sebagai perintis jalan bagi berkembangnya teori ilmu ekonomi.

    Dijelaskan selanjutnya bahwa kepala rumah tangga harus mengusahakan pemenuhan kebutuhan secara baik dalam. Jikalau suatu “Oikos” mempunyai kelebihan sesuatu maka dengan sendirinya dan pada tempatnya ditukarkan dengan barang-barang yang berlebihan di rumah tangga yang lain. Berdasarkan hal tersebut maka dapat disimpulkan bahwa suatu barang dapat digunakan dengan dua jalan yaitu kemungkinan untuk dipakai dan kemungkinan untuk ditukarkan dengan barang lain. Alhasil dari situ dapat diperoleh pengertian di dalam ilmu ekonomi tentang nilai pemakaian dan nilai pertukaran. Kegiatan pertukaran barang dikerjakan oleh para pedagang sebagai mata pencaharian mereka, hal mana sejalan dengan tujuan chrematisti, meskipun menurut para filsuf Yunani pada waktu itu kurang mendapatkan penghargaan kepada kegiatan (profesi) pedagang.


    Johannes Calvijn (1509-1564)
    
    Available from: (http://www.biocrawler.com/encyclopedia/John_Calvin)
    
    [Accessed 30 April 2006]
    

    Kurangnya penghargaan terhadap profesi pedagang tersebut berlanjut sampai dengan abad 18 di mana kaum physiokrat menganggap sebagai “classe sterile“, yang demikian pula ahli-ahli agama Kristen menilainya sebagai kegiatan yang tidak pantas. Selanjutnya St. Thomas Aquino (1225-1274) meninjau ekonomi dari sudut kesusilaan menyatakan bahwa bukan dagang itu yang hina, tetapi cara pedagang di dalam melakukan perdagangan yang tercela. Sebaliknya Johannes Calvijn (1509-1564), terlahir di perancis bernama Jean Chauvin, dikenal juga sebagai John Calvin, membela kegiatan pemungutan bunga dan uang karena menganggap keuntungan pedagang timbul karena buah dari kerajinan dan kegiatannya. Johannes Calvijn (1509-1564) mempertahankan dalil bahwa bunga tidak ditolak sama sekali oleh Alkitab.


    Martin Luther (1483-1546)
    
    Available from: (http://en.wikipedia.org/wiki/Martin_luther)
    
    [Accessed 30 April 2006]
    

    Martin Luther (1483-1546) juga mengemukakan keuntungan pedagang seharusnya merupakan penggantian tenaga dan risikonya bukan karena keuntungan dari suatu keadaan barang kurang. Johannes Calvijn (1509-1564) membela pendirian bahwa keuntungan pedagang timbul dari kerajinan dan kegiatannya, Johannes Calvijn (1509-1564) jugalah yang membela pemungutan bunga uang.

    Aristoteles (384-322 B.C.) berpendapat tentang bunga uang mempunyai pengaruh berabad-abad lamanya, menurutnya uang diadakan untuk mempermudah pertukaran barang di antara rumah tangga, dan dengan uang semaunya dapat diukur sehingga dapat diadakan persamaannya. Berdasarkan pendapatnya maka uang dapat dipergunakan sebagai alat penukar, satuan pengukur nilai dan alat untuk menimbun kekayaan. Sedangkan pandangannya mengenai bunga dinyatakan bahwa “menurut sifatnya uang tidak dapat beranak” oleh karena itu keuntungan yang diterima oleh kreditor bukanlah sebagai akibat tenaga ekonomi yang merupakan bagian daripada uang, tetapi itu tidak lain daripada perbuatan yang merugikan terhadap debitor. Penolakan atas bunga dari uang juga diajukan oleh St. Thomas Aquino (1225-1274), kaum skolastik di abad pertengahan serta di lingkungan agama Islam. Namun demikian disadari bahwa peminjaman uang itu memerlukan tenaga, ongkos-ongkos dan kemungkinan terjadinya bahaya maka timbul pemikiran bahwa boleh dimintakan ganti kerugian yang pantas.


    Werner Sombart (1863-1941)

    Available from: (http://en.wikipedia.org/wiki/Werner_Sombart)
    

    [Accessed 14 November 2006]

    Werner Sombart (1863-1941) menjelaskan bahwa unsur etik di dalam pembentukan harga semakin terdesak ke samping bilamana keadaan pasar semakin berkembang. Pada abad ke-17 Jacques dan Louis Savary mengemukakan bahwa harga-harga sebenarnya atau harga intrinsik daripada barang diukur dengan ongkos-ongkos yang dibebankan pedagang untuk itu, ditambah dengan apa yang pantas untuk upahnya. Nicholas Oresme (1320-1382) dan Niccolo Machiavelli (1469-1527) melepaskan pandangan teori ekonomi dari ajaran agama dan demikian pula ilmu politik terlepas dari etik.

    Niccolo Machiavelli (1469-1527)

    Available from: (http://en.wikipedia.org/wiki/Niccolo_Machiavelli)
    

    [Accessed 14 November 2006]

    Pandangan dari para ahli filsafat memperkaya pandangan dari ekonom dan memberikan dasar pemikiran selanjutnya di dalam ekonomi. Pemikiran mereka telah merintis bagi jalan berkembangnya ilmu ekonomi. Dengan mempelajari pandangan dari para ahli filsafat dapat memberikan gambaran mengenai dinamika perkembangan teori ekonomi dari waktu ke waktu.

    BAGIAN II

    Analisis Pemikiran Para Kaum Merkantilis

    Sebelum abad ke-16 dan ke-17 perdagangan dinilai sebagai derajat yang rendah, kaum merkantilis telah mulai memusatkan perhatiannya kegiatan ekonominya di dalam perdagangan terutama perdagangan luar negeri. Pemikiran kaum merkantilis telah mengangkat pandangan masyarakat dan negara mengenai perdagangan. Emas yang mengalir dari luar ke dalam negeri sebagai akibat perdagangan telah memperkuat negara. Kaum merkantilis sering disebut juga tukang batunya ilmu ekonomi pada abad ke-16 dan ke-17.

    Kaum merkantilis tua yang juga disebut sebagai kaum Bullion seperti Hales, Miles, Gerald de Malynes (1586-1641) dan Edward Misselden (1608-1654) menyatakan agar negara memasukkan sebanyak-banyaknya logam mulia murni ke dalam negeri dan menahannya jangan sampai keluar, dalam hal ini uang disamakan dengan kemakmuran.

    Gerald de Malynes (1586-1641) dan Sir William Petty (1623-1687) berpendapat bahwa turunnya bunga dan meningkatnya perdagangan, sebagai akibat penting dari bertambahnya uang yang beredar. Pendapat bahwa bunga adalah harga untuk uang ditolak oleh kaum klasik dan para ahli ekonomi sesudahnya sampai dengan John Maynard Keynes (1883-1946) menulis bukunya yang berjudul General Theory of Employment, Interest and Money yang meminta perhatian bagi kebenaran pendapat kaum Merkantilis. Dalam hal ini pendapat Keynes yang membela pendapat kaum Merkantilis dengan teori yang dikenal dengan motivasi “liquidity preferences“.

    Charles d’Avenant (1656-1714) menyatakan bahwa kekayaan dalam bentuk uang hanyalah kekayaan mati. Oleh karena itu harus diperbesar tingkat konsumsi masyarakat terutama untuk barang mewah yang diproduksi di dalam negeri. Selanjutnya diakui oleh kaum merkantilis akan aliran logam mulia ke Eropa Barat dalam abad ke-16 dan sesudahnya berakibat meningkatkan tingkat harga umum di negara tersebut. Dengan demikian maka muncullah teori kuantitas uang. Di dalam teori tersebut masih sederhana dinyatakan bahwa keseimbangan antara tingkat harga dengan jumlah uang beredar. Dikemukakan lebih lanjut bahwa penambahan uang beredar dengan satu persen akan berarti naiknya harga dengan satu persen. Hal demikian berarti bahwa koefisien elastisitas tingkat harga terhadap jumlah uang beredar sama dengan satu.

    John Locke (1632-1704) mengemukakan bahwa dalam hal ini yang harus diperhatikan bukan hanya jumlah uang yang beredar, tetapi juga cepatnya uang beredar. Dalam hal ini kecepatan berputar daripada uang tidaklah sama untuk semua subyek ekonomi. Menurut taksirannya volume uang yang diperlukan untuk suatu negeri sama dengan 1/15 daripada upah tahunan ditambah ¼ pendapatan para pemilik tanah besar setiap tahun ditambah 1/20 pendapatan para pedagang setiap tahun. Richard Cantillon (1680-1734), seorang bankir Irlandia dan petualang yang beremigrasi ke Paris, menyatakan jumlah uang yang diperlukan sama dengan 1/9 hasil nasional bersih.

    Teori kuantitas uang sederhana tersebut kemudian dibelakang hari disempurnakan oleh Irving Fisher (1867-1947), profesor ekonomi dari Yale dan pendiri aliran monetaris, dengan rumus M x V = P x T (M adalah Money yaitu kuantitas uang yang beredar, V adalah Velocity yaitu kecepatan uang atau perputaran uang tahunan, P adalah Price yaitu tingkat harga umum, T adalah Trade yaitu kuantitas barang yang dihasilkan/diperdagangkan selama setahun). Ini berarti bahwa dalam hal kecepatan peredaran uang yang tetap (konstan) dan jumlah barang yang sama yang diperdagankan, maka tingkat harga ditentukan oleh jumlah uang. Irving Fisher (1867-1947) dalam hal ini telah membedakan antara uang kartal yaitu seperti uang logam, uang kertas dan lain-lain serta uang giral yaitu uang dalam bentuk giro, deposito, dan sebagainya yang ada di dalam bank.

    Pieter De La Court (1618-1685)
    
    Available from: (http://en.wikipedia.org/wiki/Pieter_de_la_court)
    

    [Accessed 14 November 2006]

    Kaum Bullion berpendapat bahwa ekspor logam mulia murni harus dilarang sama sekali tidak dijumpai, tetapi yang penting bagaimana nilai ekspor harus lebih besar daripada impor. Pieter De La Court (1618-1685) dari Belanda membuat usulan kepada pemerintahannya:

    1. Untuk memajukan perkapalan dengan perpajakan yang ringan untuk mengangkut barang-barang dari luar negeri.
    2. Mempajaki kapal-kapal luar negeri yang masuk.
    3. Semua barang-barang yang dapat dibuat di negeri sendiri jangan dibebani pajak terlalu banyak.
    4. Semua bahan mentah sama sekali tidak boleh dibebani pajak.
    5. Semua barang-barang luar negeri harus dibebani bea masuk.

    David Hume (1711-1776), seorang tokoh ekonomi klasik, mengkritik pemikiran kaum merkantilisme dengan menjelaskan mengenai mekanisme otomatis dari Price-Spice Flow Mechanism atau PSFM. Ide pokok pikiran dari merkantilisme mengatakan bahwa negara/raja akan kaya/makmur bila X>M sehingga LM yang dimiliki akan semakin banyak. Ini berarti Money supply (Ms) atau jumlah uang beredar banyak. Bila Money supply atau jumlah uang beredar naik, sedangkan produksi tetap/tidak berubah, tentu akan terjadi inflasi atau kenaikan harga. Kenaikan harga di dalam negeri tentu akan menaikkan harga barang-barang ekspor (Px), sehingga kuantitas ekspor (Qx) akan menurun.



    David Hume (1711-1776)
    
    Available from: (http://en.wikipedia.org/wiki/David_Hume)
    

    [Accessed 14 November 2006]

    Dengan adanya kritik David Hume (1711-1776) maka teori pra-klasik atau merkantilisme dianggap tidak relevan. Selanjutnya Adam Smith (1723-1790) menyumbangkan pemikirannya dalam buku yang berjudul “An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations” pada tahun 1776. Sehingga muncul teori klasik atau absolute advantage dari Adam Smith (1723-1790). Pendapat Adam Smith (1723-1790) adalah sebagai berikut:

    1. Ukuran kemakmuran suatu negara bukan ditentukan banyaknya LM yang dimilikinya.
    2. Kemakmuran suatu negara ditentukan oleh besarnya GDP dan sumbangan perdagangan luar negeri terhadap pembentukan GDP negara tersebut.
    3. Untuk meningkatkan GDP dan perdagangan luar negeri, maka pemerintah harus mengurangi campur tangannya sehingga tercipta perdagangan bebas atau free trade
    4. Dengan adanya free trade maka akan menimbulkan persaingan atau competition yang semakin ketat. Hal ini akan mendorong masing-masing negara untuk melakukan spesialisasi dan pembagian kerja internasional dengan berdasarkan kepada keunggulan absolut atau absolute advantage yang dimiliki negara masing-masing.
    5. Spesialisasi dan pembagian kerja internasional yang didasarkan kepada absolute advantage, akan memacu peningkatan produktivitas dan efisiensi sehingga terjadi peningkatan GDP dan perdagangan luar negeri atau internasional.
    6. Peningkatan GDP dan perdagangan internasional ini identik dengan peningkatan kemakmuran suatu negara.

    Sir William Petty (1623-1687) pada tahun 1679 telah menghitung pendapatan nasional Inggris yang selanjutnya melahirkan ilmu pengetahuan “Political Aritmathic”. Perhitungan pendapatan nasional terus berkembang dan menjadi isu penting di dalam ekonomi sampai dengan dewasa ini. Pendapatan nasional telah dijadikan tolok ukur atas keberhasilan suatu pemerintahan dalam mengatur ekonominya.

    Gregory King (1648-1712) dalam tahun yang hampir bersamaan mengumpulkan bahan-bahan yang sama untuk membuat gambar kurva permintaan terhadap gandum dalam suatu kejadian konkrit. Menurut hukum King perubahan dalam penawaran gandum berturut-turut dengan 1/10, 2/10, 3/10, 4/10, dan 5/10, membuat harga berubah dalam arah yang sebaliknya dengan 3/10, 8/10, 16/10, 28/10, dan 45/10. Pemikiran ini semakin dikembangkan dalam teori permintaan dan penawaran oleh ekonom selanjutnya.

    Gregory King’s Law, or the “King-Davenant law,” is an estimate of by how much a deficiency in the supply of corn will raise the price of corn. It appears in Davenant’s Essay upon the Probable Methods of making a People Gainers in the Balance of Trade. Since the early 19th century it has usually been attributed to King.

    It is observed that but one-tenth the defect in the harvest may raise the price three-tenths, and when we have but half our crop of wheat, which now and then happens, the remainder is spun out by thrift and good management, and eked out by the use of other grain; but this will not do for above one year, and would be a small help in the succession of two or three unseasonable very destructive, in which many of the poorest sort perish, either for want of sufficient food or by unwholesome diet.

    “We take it that a defect in the harvest may raise the price of corn in the following proportions:

    Defect raises the price above the common rate

    1 tenth …………… 3 tenths

    2 tenths …………… 8 tenths

    3 tenths …………… 16 tenths

    4 tenths …………… 28 tenths

    5 tenths …………… 45 tenths

    So that when corn rises to treble the common rate, it may be presumed that we want above one-third of the common produce; and if we should want five-tenths or half the common produce, the price would rise to near five times the common rate.” (The Works of Sr William D’Avenant Kt, vol. ii, pp. 224, 225, edited by Sir C. Whitworth, London (1771)).

    BAGIAN III

    Analisis Pemikiran Para Kaum Physiokrat

    Tokoh-tokoh kaum physiokrat adalah François Quesnay (1694-1774), Pierre Samuel du Pont de Nemours (1739-1817) dan Charles Gide, di mana paham dari aliran ini yang terpenting bagaimana penguasaan alam. Jikalau kaum merkantilis adalah sebagai perintis ilmu ekonomi, maka kaum physiokrat disebut sebagai pendasar ilmu ekonomi.

    Kaum physiokrat sebagai yang pertama memandang kehidupan perekonomian sebagai suatu sistem yang sudah ditentukan dan sebagai suatu sistem yang diatur oleh hukum-hukum tersendiri, dan atas dasar itu dapat dibuat perhitungan dan ramalan-ramalan serta mereka mencoba merumuskan hukum-hukum ini. Para pengikut mazhab physiokrat adalah Mercier De la Rivière (1720-1794), Boudeau, Robert Jacques Turgot (1727-1781), le Trosne, serta Karl Friedrich von Baden-Durlach.

    Menurut François Quesnay (1694-1774), seorang doketer, melihat peredaran ekonomi (aliran barang-barang di masyarakat) seperti aliran darah di dalam tubuh manusia. Prinsip dasar pandangan kaum physiokrat adalah di dalam kehidupan harus mendasarkan kepada natural order. Organisasi yang asasi bahwa setiap individu mengetahui kepentingan sendiri, dan selanjutnya yang terbaik mengurus kepentingan sendiri itu adalah setiap orang itu sendiri. Akhirnya kepentingannya sendiri dan kepentingan umum jatuh bersamaan, sehingga bilamana setiap individu dibebaskan untuk membela kepentingannya sendiri, maka juga kepentingan umum akan teriris dengan baik sekali. (leisser faire, leisser passer, le monde va alors de luis meme).

    Kaum physiokrat mengembangkan teori harmoni, yakni keserasian antara kepentingan individu dan kepentingan umum (masyarakat). Selanjutnya diketengahkan prinsip ekonomi yang dijadikan dasar umum teori ekonomi kaum physiokrat di mana setiap individu berusaha memperoleh suatu hasil tertentu dengan pengorbanan sekecil-kecilnya. Teori harmoni ini kemudian dilanjutkan kaum klasik yang berbunyi: setiap individu berusaha memperoleh pendapatan sebanyak-banyaknya, dan pendapatan hanya dapat bertambah bilamana subyek ekonomi menawarkan kepada sesamanya barang yang lebih baik dan atau lebih murah, serta pemerintah tidak perlu campur tangan. Pemerintah hanya bertugas di dalam bidang justisi, milisi, pengajaran dan pekerjaan umum. Hal ini merupakan reaksi atas campur tangan pemerintah yang begitu jauh yang diajarkan oleh kaum merkantilis.

    Jikalau kaum merkantilis menempatkan perdagangan luar negeri dalam pusat pandangan ekonominya, maka kaum physiokrat menempatkan pertanian dalam pandangan ekonominya. Hanya pertanianlah yang dapat memberikan hasil yang produktif.

    Sir William Petty (1623-1687) menyatakan bahwa “labour is the father and active principle of wealth, as lands are the mother“. Petani menuai lebih banyak daripada yang ditaburkannya dan kelebihan ini (atau disebut “produit net“) ditambahkannya sebagai barang (product) baru kepada peredaran perekonomian masyarakat.

    Kehidupan perekonomian secara keseluruhan sebagai suatu sistem, François Quesnay (1694-1774) menggambarkan hubungan di antara tiga golongan masyarakat.

    1. Classe productive; yakni para petani.
    2. Classe prosprietaires; yakni para pemilik tanah.
    3. Classe sterile; yakni para pedagang dan industriawan.

    Ketiga golongan masyarakat inilah yang dianggap berperanan dalam pembagian pendapatan masyarakat (nasional) yang digambarakan dalam “Tableau Economique“. Selanjutnya ditambahkan golongan pekerja yang disebut classe passive sebagai golongan keempat yang mempunyai arti dalam hubungan konsumsi bukan untuk produksi.

    Dalam teori pembagian pendapatan masyarakat (nasional) ini François Quesnay (1694-1774) menyatakan bahwa golongan petani (classe productive) menghasilkan F 5 milyar. Diantaranya F 2 milyar mengalir ke classe prosprietaires dan F 1 milyar mengalir ke classe sterile dan tersisihkan bagi keperluan classe productive sebesar F 2 milyar untuk keperluan sendiri, ternaknya dan bibit.

    Selanjutnya dari classe
    prosprietaires F 1 milyar digunakan untuk pembelian bahan makanan, yang berarti mengalir kembali kepada kaum petani. Sedangkan F 1 milyar lagi dipergunakan untuk memperoleh barang-barang industri, yang berarti mengalir kepada classe sterile. Penerimaan F 2 milyar classe sterile dipergunakan untuk membeli bahan makanan. Dengan demikian pada akhir proses pembagian pendapatan nasional classe productive menerima kembali F 3 milyar di mana F 1 milyar berasal dari classe des prosprietaires dan F 2 milyar berasal dari classe sterile. Berdasarkan “Tableau Economique” yang disusun Quesnay maka dapat memberikan wawasan kepada suatu pembukuan nasional atau suatu input-output analysis.



    Tableau Economique” oleh François Quesnay (1694-1774)

    François Quesnay (1694-1774) selanjutnya membedakan konsep nilai dan harga yang cocok digunakan dalam sistem yang dipakainya. Sedangkan tentang harga dibedakan antara harga pokok barang dan harga yang harus dibayar konsumen. Harga pokok menurut François Quesnay (1694-1774) tergantung dari biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menyiapkan barang itu untuk pasar. Sedangkan harga penjualan kepada konsumen, biasanya para pedagang berusaha memperoleh marjin uang sebesar-besarnya.

    Harga jual hasil- hasil industri sama dengan harga pokoknya, di mana dalam hal ini pedagang hanya dapat memperoleh laba dengan merugikan konsumen. Sebaliknya untuk produk-produk hasil pertanian agar dengan harga jualnya dapat diperoleh laba yang besar guna dilakukan untuk investasi yang mendatangkan tambahan “produit net“.

    Perhitungan kaum physiokrat untuk menyerahkan 2/5 dari pendapatan nasional kepada pemilik tanah karena dianggapnya mereka itu sebagai tulang punggung negara. Dari sewa tanah yang diterimanya, harus membayar pajak dan kewajiban sosial lainnya (termasuk pemesanan pembelian barang-barang mewah yang mendorong kemajuan para pengrajin). Dengan demikian maka para pemilik tanah (classe des proprietaires) adalah sebagai penggerak peredaran perekonomian. Selanjutnya sampailah pada suatu slogan “bilamana petani miskin, maka miskinlah negara (kerajaan) dan miskin pulalah rajanya (kepala negara) “pauvre paysans, pauvre royaume, pauvre roi“.

    Tapi upah menurut kaum physiokrat dinyatakan bahwa besarnya upah sama dengan ongkos-ongkos hidup. Maka upah akan naik bilamana harga gandum naik. Jadi menurut mereka, untuk kesejahteraan kaum buruh tidak ada artinya tingginya tingkat harga.

    Apabila kaum merkantilis dalam menganalisa soal-soal ekonomi banyak mencurahkan perhatian pada soal-soal moneter, maka kaum physiokrat menunjukkan bahwa “tabir uang” membuat samar-samar gejala-gejala ekonomi. Oleh karenanya soal-soal ekonomi yang sebenarnya harus dicari dibelakang tabir uang ini; hal mana diikuti pendapat serupa oleh kaum klasik sampai dengan terbitnya buku General Theory of Employment, Interest and Money yang ditulis oleh John Maynard Keynes (1883-1946).

    Teori uang menurut seorang physiokrat bernama Robert Jacques Turgot (1727-1781) mengemukakan bahwa dalam sistem penukaran barang digunakan alat penukar yang lazim dan dikehendaki oleh orang pada umumnya yakni dengan hitungan domba. Lambat laun orang membuat daftar harga-harga itu dalam domba abstrak (dalam angan-angan saja). “Domba abstrak” ini kemudian merupakan satuan perhitungan. Pemikian ini kelak akan menginspirasi akan standar logam mulia (emas) yang didukung oleh Adam Smith (1723-1790), sebagai patokan uang dianggap lebih stabil.

    Teori bunga menurut kaum physiokat diketengahkan oleh Robert Jacques Turgot (1727-1781) di mana bahwa uang tidak dapat beranak, tetapi menggunakan teori fruitifikasi (berbuah), jadi dapat berbuah.

    Dalam hal pajak, mengingat pemerintah harus bertanggung jawab dalam pendidikan yang memerlukan biaya besar, maka memerlukan sumber pendanaan yang berasal dari pajak. Tetapi berbagai macam jenis pajak disederhanakan dalam “impot direct et unique” (pajak langsung dan tunggal) yang dikenakan terhadap “produit net” sebesar 3/10. Pendapat tentang pajak kaum physiokrat sampai dengan sekarang masih banyak pengikutnya meskipun dengan alasan-alasan yang berbeda, tentang pajak langsung dan tunggal, seperti di Amerika Serikat, Austria dan Jerman. Pemikiran ini mensinyalkan akan debirokratisasi atas pajak serta melandasi pemikiran keadilan pajak yang sampai saat ini masih terus berkembang. Di kemudian hari terbukti bahwa jenis pajak yang bermacam-macam dapat membuka peluang pungutan liar. Pemikiran mengenai pajak nantinya terus disempurnakan.



    Robert Jacques Turgot (1727-1781)

    Available from: (http://en.wikipedia.org/wiki/Jacques_Turgot)
    

    [Accessed 14 November 2006]

    Daftar Tokoh Ekonomi

    Xenophon (440-355 B.C.)

    Aristotle (384-322 B.C.)

    Aquinas, St. Thomas (1225-1274)

    Oresme, Nicholas (1320-1382)

    More, Sir Thomas (1478-1535)

    Bodin, Jean (1530-1596)

    Mun, Thomas (1571-1641)

    Montchrétien, Antoine de (1575-1621)

    Malynes, Gerald de (1586-1641)

    Hobbes, Thomas (1588-1679)

    Misselden, Edward (1608-1654)

    Colbert, Jean Baptise (1619-1683)

    Petty, Sir William (1623-1687)

    Child, Sir Josiah (1630-1699)

    Locke, John (1632-1704)

    Vauban, Marshal Sébastien (1633-1707)

    North, Sir Dudley (1641-1691)

    Newton, Sir Isaac (1642-1727)

    Boisguillebert, Pierre le Pesant (1646-1714)

    Davenant, Charles (1656-1714)

    De Moivre, Abraham (1667-1754)

    Mandeville, Bernard de (1670-1733)

    Law, John (1671-1729)

    Cantillon, Richard (1680-1734)

    Montesquieu, Charles Louis de Secondat (1689-1755)

    Zincke, Georg Heinrich (1692-1768)

    Hutcheson, Francis (1694-1746)

    Quesnay, François (1694-1774)

    Bernouilli, Daniel (1700-1782)

    Bayes, Reverend Thomas (1702-1761)

    Hume, David (1711-1776)

    Steuart, Sir James (1712-1780)

    Mireabeau, Victor de Riqueti, Marquis de (1715-1789)

    De la Rivière, Mercier (1720-1794)

    Smith, Adam (1723-1790)

    Turgot, Robert Jacques (1727-1781)

    Galiani, Abbé (1728-1787)

    Borda, Jean Charles (1733-1799)

    du Pont de Nemours, Pierre Samuel (1739-1817)

    Condorcet, Marquis de (1743-1794)

    Bentham, Jeremy (1748-1832)

    Legendre, Adrien Marie (1752-1833)

    Godwin, William (1756-1836)

    Saint-Simon, Comte Henri de (1760-1825)

    Babeuf, François (1764-1797)

    Malthus, Thomas R. (1766-1834)

    Say, Jean-Baptiste (1767-1832)

    Hegel, Georg Friedrich (1770-1831)

    Owen, Robert (1771-1858)

    Fourier, Charles (1772-1837)

    Ricardo, David (1772-1823)

    Sismondi, Jean Charles (1773-1842)

    Gauss, Carl Friedrich (1777-1855)

    Von Thünen, Johann Heinrich (1780-1850)

    Poisson, Siméon Denis (1781-1840)

    Hodgskin, Thomas (1787-1869)

    List, Friedrich (1789-1846)

    Senior, Nassau William (1790-1864)

    Carey, Henry Charles (1793-1879)

    Quetelet, Adolphe (1796-1874)

    Walker, Amasa (1799-1875)

    Bastiat, Frédéric (1801-1850)

    Cournot, Antoine Augustin (1801-1877)

    Dupuit, A.J.E. ( 1804-1866)

    Mill, John Stuart (1806-1873)

    Proudhon, Pierre-Joseph (1809-1865)

    Gossen, Hermann Heinrich (1810-1858)

    Hildebrand, Bruno (1812-1878)

    Blanc, Louis (1813-1882)

    Roscher, Wilhelm (1817-1894)

    Marx, Karl (1818-1883)

    Juglar, Clément (1819-1905)

    Knies, Karl Gustav (1821-1898)

    Bertrand, Joseph Louis François (1822-1900)

    Galton, Francis (1822-1911)

    Cairnes, John Elliot (1824-1875)

    Lassalle, Ferdinand (1825-1864)

    Bagehot, Walter (1826-1877)

    Perry, Arthur Latham (1830-1905)

    Walras, Marie Esprit Léon (1834-1910)

    Jevons, William Stanley (1835-1882)

    Wagner, Adolf (1835-1917)

    Schmoller, Gustav (1838-1917)

    George, Henry (1839-1897)

    Menger, Carl (1840-1921)

    Walker, Francis A. (1840-1897)

    Marshall, Alfred (1842-1924)

    Brentano, Ludwig Joseph (Lujo) (1844-1931)

    Wicksteed, Philip (1844-1927)

    Edgeworth, Francis Ysidro (1845-1926)

    Clark, John Bates (1847-1938)

    Pareto, Vilfredo (1848-1923)

    Böhm-Bawerk, Eugen (1851-1914)

    Wicksell, Johann Gustaf Knut (1851-1926)

    Wieser, Friedrich Freiherr von (1851-1926)

    Toynbeee, Arnold (1852-1883)

    Pearson, Karl (1857-1936)

    Veblen, Thorstein (1857-1929)

    Hobson, John A. (1858-1940)

    Commons, John R. (1862-1945)

    Cassel, Gustav (1866-1945)

    Fisher, Irving (1867-1947)

    Lenin, Vladimir Ilyich Ulyanov (1870-1924)

    Yule, George Udny (1871-1951)

    Mitchell, Wesley Clair (1874-1948)

    Young, Allyn (1876-1929)

    Hilferding, Rudolf (1877-1941)

    Pigou, Alfred Cecil (1877-1959)

    Hawtrey, Ralph G. (1879-1971)

    Heckscher, Eli F. (1879-1952)

    Slutsky, Evgeny Evgenievich (1880-1948)

    Mises, Ludwig von (1881-1973)

    Keynes, John Maynard (1883-1946)

    Schumpeter, Joseph A. (1883-1950)

    Knight, Frank H. (1885-1972)

    Hayek, Friedrich August von (1889-1992)

    Lindahl, Erik (1891-1960)

    Kondratieff, Nikolai Dimitri (1892-1938)

    Frisch, Ragnar (1895-1973)

    Hotelling, Harold (1895-1973)

    Myrdal, Gunnar (1898-1987)

    Kalecki, Michael (1899-1970)

    Ohlin, Bertil (1899-1979)

    Harrod, Roy F. (1900-1978)

    Kuznets, Simon (1901-1985)

    Morgenstern, Oskar (1902-1976)

    Tinbergen, Jan (1903-1994)

    Neumann, John von (1903-1957)

    Hicks, John R. (1904-1989)

    Kahn, Richard F. (1905-1989)

    Georgescu-Roegen, Nicholas (1906-1994)

    Meade, James E. (1907-1995)

    Nurkse, Ragnar (1907-1959)

    Kaldor, Nicholas (1908-1986)

    Koopmans, Tjalling C. (1910-1986)

    Kantorovich, Leonid (1912-1986)

    Lewis, Sir W. Arthur (1915-1990)

    Available from: http://alpha.montclair.edu/~lebelp/RolodexofFamousEconomists.html [Accessed 30 April 2006]
    

    DAFTAR RUJUKAN

    Masngudi. 2006. Handout Ekonomi Internasional Lanjutan. Universitas Borobudur. Jakarta.

    Masngudi. 2006. Handout Sejarah Pemikiran Ilmu Ekonomi. Universitas Borobudur. Jakarta.

    Skousen, Mark. 2005. Sejarah Pemikiran Ekonomi, Sang Maestro Teori-Teori Ekonomi Modern. Prenada Media. Jakarta.

    http://alpha.montclair.edu/~lebelp/RolodexofFamousEconomists.html

    http://en.wikipedia.org/

    http://www.biocrawler.com/encyclopedia/





  • Karya Klasik Adam Smith Wealth of Nations

    Aug. 05, 2008




    Washington Consensus

    Jun. 16, 2008

    Konsep dan nama “Washington Consensus” dipresentasikan pertama kali pada tahun 1990 John Williamson
    John Williamson adalah seorang ekonom dari Institute for International Economics
    IIE sebuah institusi yang meneliti ekonomi internasional berkedudukan di Washington
    Williamson menggunakan istilah Washington Consensus untuk merangkum beberapa saran kebijakan oleh institusi di Washington pada saat itu
    Institusi tersebut adalah IMF, Bank Dunia dan U.S. Treasury Department
    Institusi tersebut bertujuan menciptakan agenda pemulihan Amerika Latin dari krisis keuangan
    Williamson sendiri menolak program berikutnya yang menggunakan istilah Washington Consensus
    Pada tahun 1992, Michael Novak (penulis konservatif) menyebut “Washington Consensus” menjadi Democratic Capitalism

    Menurut Joseph Stanislaw dan Daniel Yergin penulis The Commanding Heights, istilah
    Washington Consensus” dikembangkan di Amerika Latin

    • Orang Amerika Latin berpendapat bahwa Washington Consensus adalah sebuah teori konspirasi yang dibangun untuk memindahkan kesalahan pemerintah mereka kepada kesalahan pasar

    Washington Consensus

    • Fiscal discipline
    • A redirection of public expenditure priorities toward fields offering both high economic returns and the potential to improve income distribution, such as primary health care, primary education, and infrastructure
    • Tax reform (to lower marginal rates and broaden the tax base)
    • Interest rate liberalization
    • A competitive exchange rate
    • Trade liberalization
    • Liberalization of inflows of foreign direct investment
    • Privatization
    • Deregulation (to abolish barriers to entry and exit)
    • Secure property rights

    Washington Consensus

    • Kebijakan fiskal berimbang
    • Belanja negara diarahkan untuk bidang yang menawarkan tingkat pengembalian ekonomi yang tinggi dan yang berpotensi untuk meningkatkan distribusi pendapatan, seperti kesehatan, pendidikan dan infrastruktur
    • Reformasi pajak (untuk menurunkan tingkat marjinal dan memperluas basis pajak)
    • Pembebasan tingkat suku bunga
    • Nilai tukar mata uang yang kompetitif
    • Pembebasan perdagangan
    • Pembebasan aliran masuk dari FDI (Foreign Direct Investment)
    • Privatisasi
    • Deregulasi (menghapus rintangan masuk dan keluar)
    • Penjaminan hak kepemilikan (property rights)

    Negara yang Sudah Mengimplementasi Washington Consensus

    • Argentina
    • Bolivia
    • Brazil (Plano Real)
    • Chile
    • Colombia
    • Costa Rica
    • Dominican Republic
    • Ecuador
    • El Salvador
    • Guatemala
    • Honduras
    • India
    • Mexico
    • Morocco
    • Nicaragua
    • Paraguay
    • Peru
    • Tunisia
    • Uruguay
    • Zambia

    Joseph Stiglitz

    • Prof. Stiglitz, Pemenang Hadiah Nobel untuk Ilmu Ekonomi tahun 2001, melihat Bank Dunia dan WTO sebagai kepanjangan ideologi pemerintah AS
    • Pendapat Stiglitz
      • Pemaksaan “Ideologi” ekonomi AS berupa “Washington Consensus” lewat IMF
      • “Washington Consensus” tidak berhasil memperbaiki ekonomi terutama di Amerika Latin
      • Di Asia Timur, justru negara-negara yang tidak mau didikte oleh IMF, seperti Korea Selatan dan Malaysia, lebih cepat keluar dari krisis daripada Indonesia dan Filipina
    • Saran Stiglitz
      • Negara berkembang harus tegas pendiriannya saat berhadapan dengan IMF dan Bank Dunia
      • Negara berkembang berhak memberlakukan proteksi karena pada kenyataannya Amerika Serikat sendiri tetap memberi proteksi kepada beberapa sektor pertanian dan industri, sehingga melakukan double standards dalam perdagangan internasional



    Pemikiran Kaum Sosialis dan Klasik

    Mar. 10, 2008

    Pemikiran sosialis diinspirasi dari ajaran teori klasik, terutama oleh ajaran nilai kerja dari David Richardo. Marx mencoba menyempurnakan ajaran nilai kerja David Ricardo dengan menggunakan pengertian kerja kemasyarakatan / perusahaan tingkat menengah yang perlu (“gemiddeld maatschappelijk nood-zakelijke arbeid“) di mana dikatakan bahwa nilai barang-barang dibayar dari kerja buruh yang mempunyai tenaga kerja dan semangat kerja menengah dengan menggunakan alat produksi yang diperlukan dalam zaman dia hidup. Dengan membuat berlaku ajaran nilai ini bagi faktor produksi tenaga kerja sampailah Marx pada “ajaran nilai lebih”, suatu ajaran yang sangat banyak mempunyai arti psikologis bagi perjuangan kaum sosialis. Selanjutnya Marx membuat ramalan bahwa kapitalis akan runtuh dengan sendirinya, meskipun demikian Marx menganjurkan untuk mendirikan organisasi politik untuk mempercepat kedatangan Chiliasme.

    Di lain pihak John Stuart Mill dalam bukunya “Principles of Political Economy” mengatakan keuntungan disebabkan karena buruh memproduksi lebih dari yang dibutuhkan untuk mendukungnya. Alasan kenapa modal menghasilkan keuntungan adalah karena makanan, pakian, material dan alat dapat lebih awet dari waktu yang dibutuhkan untuk memproduksinya. Sehingga keuntungan muncul bukan dari pertukaran, akan tetapi dari kekuatan produktif buruh, bila buruh pada sebuah negara secara kolektif memproduksi 20 persen lebih dari upahnya, maka keuntungan akan menjadi 20 persen. Kaum klasik mempercayai bahwa keuntungan diperoleh bukan dari pemerasan kaum buruh tetapi dari peran pengetahuan, kerja kapitalis dan entrepreneur yang menyediakan hal teknik, pengambilan resiko, kapital yang dibutuhkan serta keahlian manajemen yang diperlukan untuk mengoperasikan usaha yang menguntungkan.

    Perbedaan pemikiran antara kedua kubu ini sangat mempengaruhi sistem perekonomian di dunia. Sampai dengan resesi besar pada awal pada tahun 1930-an, teori klasik masih diunggulkan oleh sebagian besar ilmuwan ekonomi. Semenjak terjadinya resesi besar, ternyata mekanisme pasar tidak dapat mengangkat perekonomian dari krisis ekonomi. Selanjutnya muncul aliran pemikiran baru yang dipelopori oleh John Maynard Keynes, yang mencoba memperbaiki pemikiran ekonomi dengan mengambil ide dari pemikiran kaum klasik dan pemikiran kaum sosialis. Sampai di sini pemikiran ekonomi terbagi menjadi tiga aliran besar, yaitu aliran klasik dengan pemikiran kebebasan pasar, aliran sosialis yang meyakini bahwa mekanisme pasar adalah suatu kejahatan kaum kapitalis, dan aliran keynes yang menggabungkan kedua pemikiran kaum klasik dan sosialis.

    Pergelutan pemikiran ekonomi masih belum selesai sampai pada saat ini. Sebelum sampai pada pembahasan mengenai pemikiran Keynes, dalam makalah ini hanya akan dibahas mengenai perbedaan pemikiran antara kaum klasik dan kaum sosialis.

    Sosialisme terbagi menjadi 2 aliran yaitu aliran Sosialis Utopis dan aliran “Scientific Socialism.” Engels menjelaskan bahwa kaum Sosialis Utopis menentang organisasi masyarakat yang sudah ada, tetapi tidak dapat menerangkannya, kaum Sosialis Utopis hanya dapat menolaknya sebagai sesuatu yang immoral. Sedangkan Sosialisme yang dikembangkan oleh Marx dan Engels dikenal sebagai “Scientific Socialism.”

    Kaum Utopis menggambarkan masyarakat yang diidam-idamkan atau dengan menciptakan suatu masyarakat percontohan dengan mendirikan perkampungan. Kaum Utopis percaya bahwa keadaan masyarakat pada umumnya dapat diperbaiki.

    Nama Utopis diambil dari buku Thomas More, Kanselir Inggris di masa pemerintahan Raja Henry VIII yang diterbitkan pada tahun 1816 yang berjudul tentang keadaan negara yang terbaik dan tentang pulau yang baru Utopia. Di pulai Utopia tidak akan ada lagi milik perorangan, hari kerja ditetapkan sampai jam 6 dan baik laki-laki maupun perempuan diwajibkan bekerja. Kewajiban belajar yang umum bagi anak laki-laki maupun perempuan serta kebebasan agama yang mutlak.

    Francis Bacon menulis buku Nova Atlantis (1623). Francis Bacon berpendapat bahwa masyarakat yang diidam-idamkan adalah saat orang-orannya memiliki keinsyafan yang sempurna dalam hukum-hukum alam, segala kebodohan, kejahilan dan prasangka sudah ditaklukan.

    Thomas Carpanella dalam bukunya berjudul negara Surya (Civitas Solis) mengetengahkan persoalan sosial. Seperti tulisan More yang menganjurkan pendidikan yang sama antara anak laki-laki dan perempuan sebagai salah satu syarat untuk mendirikan masyarakat yang lebih baik, akan tetapi menurut Carpanella, keluarga tidak menjadikan dasar pendidikan yang baik bagi masyarakat, oleh karena itu di dalam negara Surya, setelah anak berumur 3 tahun harus diserahkan kepada negara. Jika segalanya menjadi milik bersama, maka dalam 1 hari sudah cukup bekerja selama 4 jam saja setiap orang dan tidak perlu ada lagi budak belian.

    James Harrington pada sekitar abad ke-17 menerbitkan buku “Oceana“. Harrington dianggap sebagai perintis materialisme historis, karena hendak menerangkan organisasi negara dari fakta-fakta materi (zat), yakni dari cara pembagian tanah. Jika tanah menjadi milik satu orang maka disebut monarchi, bila tanah terbagi di antara beberapa orang disebut aristokrasi (pemerintahan kaum ningrat). Sedangkan dalam demokrasi setiap orang mempunyai sebidang tanah. Vairasse d’Allais menggambarkan dalam Historie des Sevarambes (1680) suatu negara sebagai negara cita-cita yang semua tanah dan juga semua hak milik menjadi kepunyaan negara. Abbe Morelly memandang dalam bukunya Code de la Nature (1755) milik perseorangan itu sebagai sumber segala ketidak adilan kemasyarakatan.

    Selama revolusi Perancis, Gracchus Babeuf dalam surat kabar Tribune du Peuple membela paham seperti dikemukakan Morelly. Dalam pendapatnya direncanakan penghapusan hak milik perseorangan. Dalam hal ini juga dihapuskan warisan dan selanjutnya orang-orang secara sukarela boleh menyerahkan milik mereka kepada negara. Pembagian yang tepat daripada kemakmuran atas semua golongan penduduk, akan mengakibatkan bahwa setiap orang hanya beberapa jam saja bekerja sehari.

    Pieter Corneliszoon Plockhoy pada tahun 1659 mengeluarkan rencana pembaharuan sosial di Inggris. Dalam pokok pikirannya, Plockhoy menganjurkan mendirikan suatu masyarakat yang lebih baik di Amerika Utara. Pendapat Plochoy yang disambut oleh Marx adalah rencana mendirikan koloni-koloni yang di dalamnya orang bekerja sama untuk tujuan bersama dan hasilnya dibagi-bagi di antara penduduk koloni tersebut. Dalam hal ini, modal merupakan milik bersama.

    R. Owen termasyur karena propagandanya untuk mendirikan koperasi konsumsi. Salah satu hasil nyata Owen adalah “Rochdale Society of Equitable Pioneers” pada tahun 1844. Koperasi ini didirikan oleh sekitar 40 orang buruh pabrik tenun. Mereka mengumpulkan modal sebesari £ 28, dan setiap minggu menyetor uang sebesar 2 pence. Koperasi konsumsi yang pertama berkembang menjadi badan usaha yang besar dan kuat dan memperoleh pengikut tidak hanya di Inggris tetapi juga di negara lain.

    Usaha Owen untuk mempraktikkan ajaran nilai dengan mendirikan sebuah “National Equitable Labour Exchange” suatu gudang, di mana tiap orang boleh membawa hasil-hasil yang dibuatnya dan kemudian dipertukarkan atas dasar jumlah kerja yang dipergunakan masing-masing. Usaha ini gagal karena kecurangan dalam menaksir nilai barang. Koloni yang didirikan di Amerika yang disebut “New Harmony” kandas karena perselisihan penduduk di koloni yang bersangkutan. Selama Owen yang memimpin sendiri pabriknya, semua berjalan baik, tetapi setelah hendak melaksanakan cita-citanya dalam masyarakat timbul kesulitan-kesulitan.

    Di Israel berkembang Zionisme yang diambil dari Chiliasme dan berkembang di negara tersebut. Mereka mendirikan koloni yang berhasil baik dan mendasarkan atas koperasi yang sosialistik (Kibbutz).

    Golongan Utopis sendiri digolongkan menjadi tiga kelompok

    1. Para penulis roman yang menggambarkan cita-cita dunia baru.
    2. Para pendiri koloni yang ingin mempraktekkan masyarakat sosialis.
    3. Para ahli ekonomi yang melalui analisis ekonominya mengusulkan perubahan radikan di dalam masyarakat. Tokohnya adalah Henri de Saint Simon, Charles Fourier, Louis Blanc, Piere Joseph Proudhon dan Edward Bellamy.

    Saint Simon membela dalil, bahwa semua anggota masyarakat harus bekerja untuk perbaikan hidup kesusilaan dan jasmani orang miskin dan bahwa masyarakat harus menyusun diri untuk dapat mencapai maksud ini (Nouveau Christianisme, 1852). Menurut Saint Simon, mengupah buruh menurut kesanggupannya bukan menurut kebutuhannya.

    Charles Fourier mengemukakan rencana agar orang dikumpulkan dalam rombongan yang ditempatkan dalam sebuah rumah perkumpulan dari kurang lebih 1500 orang yang disebut FALANX (Nouveau Monde Industriel et Socetaire, 1829). Mereka akan berdiam bersama dalam “Phalansteres” di mana mereka akan berproduksi dan berkonsumsi atas dasar koperasi. Dalam hal ini Fourier menilai bahwa masing-masing warga masyarakat mempunyai hak bekerja dan mereka harus dihindarkan dari kebosanannya (monotonie). Oleh karena itu di dalam Phalansteres pekerjaan sifatnya berubah-ubah. Dalam Phlansteres tiap orang akan mendapat sebagian, yang memungkinkan dia memenuhi kebutuhan hidupnya, yang lainnya akan dibagikan antara kerja, modal, dan keahlian (kecakapan) dengan cara berturut-turut 5/12, 4/12, 3/12.

    Di Perancis didirikan Phalansteres tapi gagal karena kekurangan modal. Di Amerika Serikat antara tahun 1840-1850 tidak kurang 40 Phalansteres didirikan melalui propaganda Albert Brisbane, antara lain Brook Farm di Massachusetts. Tetapi percobaan ini gagal.

    Louis Blanc dalam bukunya Organisation du Travail (1839) membela hak atas kerja. Louis Blanc mengusulkan mendirikan “Ateliers Socaiaux” yaitu pabrik-pabrik yang dipimpin oleh negara, para pekerja mendapat upah yang pantas dan bagian dalam keuntungan. Oleh karena produktifitas pekerja karena mendapatkan bagian keuntungan diharapkan Alterliers Sociaux ini menang dalam persaingan. Sehingga lambat laun perusahaan swasta akan sukarela minta diubah menjadi ateliers sociaux. Sewaktu Louis Blanc duduk dalam pemerintahan revolusioner Perancis pada tahun 1848, didirikanlah ateliers nationaux. Tetapi kegiatan ini gagal karena sabotase, para buruh disuruh mengerjakan pekerjaan yang tidak produktif.

    Pendapat Piere Joseph Proudhon agak berbeda dengan tokoh sosialis lainnya, Piere Joseph Proudhon tidak berpendapat bahwa milik perseorangan adalah sumber segala kejahatan. Pemerasan dapat dihindarkan jikalau ada sebuah bank sirkulasi yang memberi kredit dengan cuma-cuma ini akan melenyapkan segala pembedaan pertetangan kelas dan membuat adanya negara tidak perlu. Proudhon ingin membentuk masyarakat kolektif yang bebas atas dasar pembagian kerja. Proudhon melahirkan salah satu paradox yakni “Anarchi“, tujuan kemajuan masyarakan bebas ialah membuat negara tidak perlu. Bentuk tertinggi daripada pemerintahan ialah “Harmoni Anarchi” dan ketertiban. Proudhon adalah yang pertama, yang menuju anarchi tidak sebagai tindakan revolusioner, tetapi sebagai bentuk tertinggi daripada organisasi sosial.

    Edward Bellamy, seorang ahli ekonomi utopis, menulis buku Looking Backward pada tahun 1887, dalam negara cita-citanya terdapat kewajiban bekerja dari 21 sampai 45 tahun. Pekerjaan-pekerjaan yang kurang enak dilakukan dalam waktu pendek dibandingkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang menyenangkan. Dari hasil yang dibuat setiap orang akan dibagi sama rata. Sedangkan upah tidak tergantung dari jumlah barang yang dihasilkan, tetapi semata-mata ditetapkan oleh tenaga-tenaga yang dipergunakan di mana untuk tenaga yang sama diberi upah yang sama. Setiap penduduk pada permulaan tahun dikreditkan dalam buku besar nasional untuk bagiannya dalam pendapatan masyarakat. Pada akhir tahun dikurangkanlah dari sini apa yang diterimanya dari persediaan negara untuk memenuhi kebutuhannya.

    Penyempurnaan ajaran nilai kerja oleh Richardo membuahkan ajaran nilai lebih oleh Marx. Menurut teori ini para kapitalis melakukan pencurian terhadap kaum buruh. Marx menjelaskan bahwa para kapitalis ingin memperlihatkan kepada para buruh yang tidak memiliki apa-apa selain dari tenaga kerjanya seakan-akan dibayar penuh sebanding dengan nilai tukarnya, sedangkan para kapitalis memegang nilai pakai. Sebagai ganti rugi atas penggunaan tenaga kerjanya, buruh memperoleh upah untuk memelihara kehidupan dan keluarganya. Tetapi dikarenakan kekuasaan hukum harga, para buruh tidak mungkin memperoleh ganti rugi penggunaan tenaga kerjanya secara penuh. Sehingga nilai pakai semakin naik daripada nilai tukar. Pendapat ini bertentangan dengan pendapat Mill.

    Nilai lebih (m = mehrwerte) dihitung dengan mengurangkan jam kerja menurut undang-undang dengan waktu kerja yang diperlukan untuk memberi kehidupan dirinya dan keluarganya. Sedangkan derajat pemerasan adalah pembagian antara nilai lebih dengan modal variabel (m/v). Tingkat keuntungan menurut Marx tergantung pada perbandingan antara nilai lebih di satu pihak dan jumlah modal variabel (v) dan konstan (c) di pihak lain (m/(v+c)).

    Marx membedakan nilai lebih dengan nilai mutlak dan relatif, nilai mutlak dapat bertambah dengan perpanjangan waktu kerja. Nilai relatif diperbesar dengan menurunkan upah dengan pemakaian mesin yang mempergunakan tenaga kerja anak-anak.

    Selanjutnya marx menyampaikan dalil, bahwa sekalipun nilai tergantung dari kerja, namun harga tidak ditentukan oleh nilai, tetapi oleh persaingan. Persaingan mengakibatkan modal mengalir kepada cabang usaha dengan tingkat keuntungan yang tinggi dan meninggalkan tingkat keuntungan yang rendah. Akibatnya di suatu tempat penjualan barang di atas nilai dan di tempat lain di bawah nilai di mana hal ini berjalan lama, sampai setiap modal mendapat untung sebanding dengan modal. Penukaran tidak lagi dilakukan dengan perbandingan nilai (c + v + m), tetapi menurut harga produksi (c + v + untung rata-rata). Dengan ini sebenarnya Marx sudah meninggalkan maksud seluruhnya daripada ajaran nilainya, bukan jumlah kerja lagi yang mengatur harga, tetapi biaya produksi. Marx tiba pada teori harga Anglo-Amerika, ialah teori yang dengan berbagai variasi, sekarang ini umum diterima orang. Dengan ini pula ajaran nilai lebih kehilangan dasar teoritisnya di mana tidak dapat mengubah pembagian penghasilan masyarakat.

    Kaum “scientific socialism” terkenal bukan dari ajaran nilai lebih, akan tetapi pandangan mereka tentang perkembangan masyarakat, yang menurutnya serta merta menuju kepada masyarakat sosialistis. Di sini letak perbedaan antara kaum sosialis dan kaum physiokrat. Marx melihat kategori masyrakat sebagai satuan yang tergantung waktu, sedangkan kaum physiokrat melihat satu satuan yang tetap dan sesuai dengan alam dalam kategori teori ekonomi mereka.

    Marx yakin akan kedatangan chiliasme sudah pasti menurut ilmu, tetapi dapat dipercepat oleh organisasi politik kaum proletar. Marx berpendapat bahwa negara tidak lain daripada suatu lembaga yang dipergunakan kelas yang berkuasa untuk memeras kaum tertindas, dalam hal ini sewaktu Marx menulis bukunya, kaum buruh hampir tidak dapat mempunyai pengaruh dalam pemerintahan. Marx yakin dalam negara sosialis tidak ada lagi penindasan. W. I. Lenin mempelajari perkembangan negara menjadi masyarakat yang sosialistis. Lenin berpendapat bahwa kaum proletar dalam taraf pertama sesudah revolusi terpaksa melakukan diktatur untuk membasmi kaum borjuis.

    Semangat Marx akan kedatangan masyarakat sosialis dicoba diterangkan atas dasar-dasar ekonomi. Marx mengemukakan 4 hukum gerak:

    1. Teori Konsentrasi.
    2. Teori Akumulasi,
    3. Teori Verelendung
    4. Teori Krisis

    Menurut teori konsentrasi, perusahaan semakin besar dikarenakan adanya akuisisi atau merger, sedang jumlahnya semakin sedikit. Perusahaan kecil dan menengah kalah dalam persaingan dan lenyap. Perngusaha menengah dan kecil akan jatuh miskin. Sebaliknya penghasilan dan laba menumpuk pada beberapa orang saja (teori akumulasi). Selebihnya menjadi proletar. Menurut teori Verelendung yang erat hubungannya dengan hukum quota upah yang menurun dari Robertus, maka taraf kemakmuran kaum proletar semakin mundur.

    Kemiskinan dibedakan menjadi 3 yaitu teori kemiskinan yang mutlak, relatif dan fiktif relatif. Menurut teori kemiskinan mutlak, para buruh selama perkembangan kapitalisme menjadi mundur dalam arti yang mutlak di mana untuk kegiatan bekerja yang sama mereka selalu menerima jumlah barang yang mutlak lebih sedikit (diperkuat oleh temuan Juergen Kuczyunsky, seorang penulis komunis Jerman, dengan angka statistik yang membuktikan bahwa kehidupan para buruh semakin buruk, meskipun golongan buruh yang bersekolah kemakmurannya menjadi lebih baik). Teori kemiskinan relatif dinyatakan meskipun jumlah upah mutlak yang diterima bertambah tetapi prosentase jumlah upah dibandingkan dengan pendapatan nasional semakin menurun. Teori kemiskinan fiktif relatif menyatakan bahwa quota upah tidak akan menjadi kurang, bilamana tenaga produktif yang ada dapat dimanfaatkan, tetapi bila tidak demikian halnya maka justru upah akan turun. Mark menunjukkan adanya upaya kaum kapitalis untuk mengupayakan menggantikan sebagian tenaga buruh dengan sejumlah alat produksi mesin yang disebutnya “tentara cadangan industri.”

    Dalam teori krisis, Marx mengemukakan adanya perkembangan konjuntur yang naik dan turun. Dalam hal ini seringkali terjadi kekurangan modal ataupun terjadi permintaan barang yang tidak seimbang (produksi melimpah, daya beli berkurang) dan berakibat terjadinya krisis. Bila terjadi krisis maka tiba saatnya untuk mengubah masyarakat kapitalis ke dalam masyarakat sosialis dengan revolusi.

    Lawrence B. Klein (The Keynesian Revolution, 1947) menunjuk kepada anggapan Marx bahwa ada perbandingan yang tetap antara kelebihan nilai dengan jumlah upah seluruhnya dan selanjutnya mengemukakan contoh Marx lagi dalam suatu sistem lima perbandingan dengan lima faktor yang tidak diketahui.

    Pemikiran Marx baru sampai pada pembuktian bahwa masyarakat kapitalis terpaksa harus berubah menjadi masyarakat yang sosialis. Bagaimana rupa masyarakat sosialis belum sempat dibicarakannya. Ada yang berpendapat bahwa Marx berhenti saat seharusnya dia memulai.

    Setelah revolusi Bolsyewiki tahun 1917, Uni Sovyet mencoba melaksanakan sistem perencanaan terpusat. Von Mises (1920) membuat tulisan yang menyatakan bahwa produksi yang direncanakan, secara ekonomis adalah tidak mungkin dan tiap langkah yang dilakukan ke arah sosialisasi adalah juga langkah ke arah produksi irrational. Meskipun pengalaman Uni Sovyet selama lebih 6 dekade selalu berjalan mulus perekonomiannya, tetapi mulai dekade ke-8 ternyata tidak mampu bertahan.

    Rosa Luxemburg (1913) berpendapat bahwa kesimpulan teori Marx bahwa dalam sistem kapitalisme di mana hanya terdapat kaum kapitalis dan kaum buruh saja, maka kaum buruh tidak akan mungkin mengambil bagian yang cukup dari pendapatan masyarakat. Keadaan ini disebut sebagai “Reiner Kapitalismus” yang mengakibatkan “crisis en permanence.” Bentuk kapitalisme ini tidak akan ada, karena selalu ada sebagian hasil dari itu terjual pada pihak ketiga (masyarakat agraris dan ke wilayah-wilayah lain). Jika kegiatan ekonomi kapitalistik tadi semakin berkembang maka masalah penjualan produk menjadi masalah yang sangat mendesak. Untuk itu terjadilah dorongan untuk ekspor dan monopoli di pasaran luar negeri serta menuju penetrasi politik dan ekonomi di negara terbelakang. Pendudukan daerah ini dengan kekuatan militer dan ekonomi untuk menjamin kelangsungan penjualan. Imperialisme ini menurut teori Marx adalah syarat untuk mempertahankan apa yang disebut taraf kapitalis lambat. Menurut Marx, para buruh di negara imperalis tidak akan menikmati hasil imperialisme, dan bersamaan dengan pelenyapan pertentangan kelas akan hilang pula pertentangan antara negara yang diperas dengan negara pemeras. Ekspor kapital mengakibatkan pertumbuhan produksi dalam industri ekspor di negara penjajah, dan oleh karenanya imperalisme itu timbul sebagai outomatisme mengatasi krisis di negeri penjajah. Berkurangnya keuntungan di negeri penjajah berimplikasi pada mundurnya penanaman modal di negeri penjajah sehingga bertambahnya ekspor modal yang berimplikasi pada perluasan produksi dalam industri barang ekspor, selanjutnya menyebabkan bertambahnya keuntungan di negara penjajah, dan bertambah pula penanaman modal dalam negeri penjajah. Dari semuanya ini ternyata teori imperalisme meminta perhatian yang lebih banyak daripada yang lazim diperlihatkan oleh “ahli ekonomi borjuis.”

    Pembahasan mengenai pemikiran kaum sosialis dan pemikiran kaum klasik menjelaskan bahwa ada persamaan dan perbedaan. Seorang tokoh klasik bernama David Ricardo (1772-1823) menyatakan bahwa pembagian pendapatan masyarakat merupakan soal terpenting daripada soal ilmu ekonomi. Adam Smith sendiri memfokuskan pemikirannya kepada kemakmuran. Marx sendiri mempunyai cita-cita untuk menciptakan suatu masyarakat yang makmur. Pemikiran kaum klasik dan kaum sosialis sama-sama bertujuan untuk mencapai kemakmuran. Akan tetapi ada perbedaan mendasar antara pemikiran kaum sosialis dan aliran klasik yaitu terletak pada cara untuk mencapai kemakmuran. Ada yang menyebutkan bahwa cara untuk mencapai kemakmuran menurut kaum klasik bersifat konservatif, sedangkan cara kaum sosialis bersifat radikal.

    Kaum klasik mempercayai bahwa apabila setiap orang dibebaskan untuk bertindak mengejar keuntungan individu, maka tanpa disadarinya mereka akan memberikan kontribusi kepada masyarakat, sehingga kaum klasik percaya adanya “invisible hand” yang menuntun, sehingga tercapainya kemakmuran. Kemakmuran tercapai oleh mekanisme pasar yang harmonis secara alamiah sehingga menciptakan keuntungan diantara individu.

    Kaum sosialis (“scientific socialism“) sendiri lebih percaya bahwa kemakmuran akan tercapai bila masing-masing individu tidak mengejar keuntungan pribadi akan tetapi memberikan seluruhnya kepada masyarakat sehingga diharapkan seluruh anggota masyarakat dapat menikmati hasil secara merata. Kaum sosialis mengutuk para kapitalis yang dianggap memeras kaum buruh, kaum sosialis menganggap pemerintah yang pro kapitalis tidak akan pernah memperhatikan kesejahteraan kaum proletar, sehingga satu-satunya cara untuk mencapai kemakmuran adalah dengan menumbangkan pemerintahan yang kapitalis dan digantikan oleh pemerintahan baru yang pro dengan buruh. Kaum sosialis tidak percaya bahwa distribusi kekayaan menurut sistem kapitalis dapat bersifat adil bagi masyarakat kebanyakan.




    Mazhab Austria

    Mar. 10, 2008

    Air dan udara memiliki nilai penukaran yang rendah, padahal air dan udara memiliki nilai kegunaan yang tinggi. Sebuah lukisan, patung, dan anggur yang tidak memiliki kegunaan yang tinggi berharga sangat mahal. Seorang tokoh klasik, Richardo, sampai pada akhir hayatnya masih belum memahami kenapa anggur yang disimpan dalam gudang selama 3 atau 4 hari, atau mengapa pohon oak yang nilainya tak lebih dari 2 sen sebelum diolah, tetapi kemudian muncul menjadi senilai 100 pound.
    Sekitar tahun 1870 timbul hampir bersamaan di Austria, Perancis dan Inggris suatu ”ajaran nilai baru” yang dikemukakan oleh Karl Menger, Leon Walras dan W. Stenley Jevons. Teori baru ini menempatkan konsumen sebagai obyek penilai terakhir di pusat perhatian ekonomi. Nilai sesuatu barang harus dijelaskan bahwa sesuatu barang mempunyai kesanggupan untuk memenuhi kebutuhan. Dengan perkataan lain, suatu barang mempunyai nilai karena barang itu memberikan nilai guna bagi subyek penilai.
    Nilai guna bagi seseorang dengan seorang yang lain dapat berbeda. Sesorang dapat saja mengatakan bahwa sebuah lukisan tidak berharga karena dia tidak menyukai seni, sebaliknya bagi seorang pecinta seni, lukisan Picasso sanggup dia bayar dengan harga mahal. Kegunaan barang juga dipengaruhi unsur subyektifitas. Penduduk Jakarta rela membayar air bersih lebih mahal daripada harga yang akan dibayar oleh penduduk di daerah Wonosobo.
    Nilai penukar menurut mazhab Austria harus dituangkan dari nilai pemakaian yang subyektif, jadi dari arti barang itu untuk kesejahteraan subyek ekonomi. Selain dari pada nilai pemakaian subyektif dan obyektif ada lagi pengertian nilai penukar obyektif dan subyektif. Nilai penukar obyektif adalah sebagai pengertian untuk menyatakan harga dalam lalu lintas pertukaran, sedang nilai penukar subyektif menyatakan arti barang itu dalam pertukaran bagi kesejahteraan subyek. Jadi ajaran nilai subyektif menurut mazhab Austria adalah hubungan antara subyek ekonomi dan barang. Bagi seorang direktur sebuah perusahaan bonafide, pena montblanc yang berharga jutaan rela dibayatnya karena menurutnya berguna untuk menaikkan gengsinya, lain halnya bagi seorang mahasiswa arsitektur, pena rotring baginya lebih berguna dan rela dia bayar dengan harga yang pantas menurutnya.
    Mazhab Austria telah memecahkan soal antinomi nilai, yaitu paradoks ekonomi yang tak terpecahkan oleh kaum klasik dan yang mengatakan bahwa barang yang mempunyai nilai pemakaian yang terbesar seperti air dan hawa justru mempunyai nilai penukaran yang paling sedikit. Dalam hubungan ini, menurut mazhab Austria, nilai sesuatu barang harus diterangkan bahwa sampai seberapa jauh barang yang bersangkutan mempunyai kesanggupan untuk memenuhi kebutuhan.
    Untuk memecahkan soal antinomi nilai ini, Menger mengemukakan pembedaan antara kegunaan jumlah seluruhnya suatu barang dan kegunaan satuan tertentu yang ditambahkan atau dikurangkan dari persediaan yang ada. Dalam menilai barang maka harus diperhatikan tidak hanya kegunaanya, tetapi juga harus dipertimbangkan tentang kelangkaanya (scarcity).
    Gossen mengemukakan hukum kejenuhan (law of diminishing utility). Selanjutnya Menger berusaha menjawab soal bagaimana konsumen dalam harga tertentu daripada barang-barang akan membagi pendapatannya atas berbagai kategori kebutuhan. Contohnya, seorang konsumen dari penghasilannya akan mempergunakan empat satuan guna untuk kebutuhan makanannya, tiga satuan guna untuk perumahan, dua satuan guna untuk pakaian, dan satu satuan guna untuk sepatu.
    Von Bohm Bawerk menunjukkan adanya persaingan pada kedua belah pihak antara penjual dan pembeli yang selanjutnya menyatakan ada 4 faktor yang mempengaruhi tingginya harga:
    1. Jumlah barang-barang yang dikehendaki
    2. Tinggi angka-angka taksiran di pihak para pembeli.
    3. Jumlah barang yang ditawarkan.
    4. Tinggi angka-angka taksiran di pihak para penjual
    Mazhab Austria menganalisis tentang pembentukan harga diikuti oleh teori pembagian hasil masyarakat yang diketengahkan oleh Menger. Von Bohm Bawerk dan von Wieser yakin bagaimana membagi pendapatan masyarakat kepada faktor-faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi. Harga-harga faktor produksi merupakan nilai turunan daripada final product-nya.
    Von Thunen menyelidiki tentang terjadinya hukum kelebihan hasil yang semakin berkurang. Menurut hukum ini penambahan salah satu faktor produksi dengan faktor produksi yang lain tetap, dalam satu proses produksi, mengakibatkan penambahan hasil produksi yang bilamana dilaksanakan terus menerus maka tambahan hasilnya semakin berkurang (law of diminishing return).
    Teori bunga von Bohm Bawerk menyatakan bahwa bunga adalah agio tiap satuan waktu daripada nilai yang diberikan kepada pemakaian sekarang, atas pemakaian kelak sesuatu barang. Ada 3 alasan mengapa subyek ekonomi biasanya memberi nilai lebih tinggi kepada barang-barang sekarang daripada kepada barang-barang kelak yang sama macamnya:
    1. Perbedaan dalam perbandingan antara kebutuhan dan alat-alat pemuas kebutuhan dalam beberapa waktu, orang menghargai lebih tinggi yang sekarang daripada yang akan datang. Bunga adalah sebagian dari harga yang dibayar orang untuk barang-barang sekarang.
    2. Besarnya bunga merupakan titik keseimbangan di pasaran tempat penukaran barang sekarang dan kelak.
    3. Kedudukan bunga ditetapkan oleh keuntungan yang menjadi bagian pemodal dalam keadaan keseimbangan.
    K. Wicksell menyatakan besarnya bunga yang biasa (natural rate of interest) adalah sama dengan bunga yang terjadi dalam suatu masyarakat tanpa uang pada titik keseimbangan permintaan akan barang-barang modal dan penawaran penghematan-penghematan, keduanya dihitung dalam barang-barang, sebagai penukaran barang-barang sekarang dengan barang-barang masa kelak. Richard menyatakan “the real rate of interest is not regulated by the rate at which the bank will lend, but by the rate of profits which can be made by the employment of capital.”